Key insights and market outlook
Orang kaya cenderung memiliki kebiasaan dan strategi keuangan yang berbeda yang berkontribusi pada peningkatan kekayaan mereka. Ini termasuk tidak membiarkan uang menganggur, memprioritaskan akumulasi aset daripada gaya hidup, dan menggunakan utang secara strategis. Dengan mengadopsi kebiasaan ini dan mempertahankan perspektif jangka panjang, individu dapat bekerja untuk membangun kekayaan mereka sendiri. Berinvestasi dalam aset produktif, mengotomatiskan pembelian aset, dan melindungi modal juga merupakan faktor kunci dalam akumulasi kekayaan.
Individu kaya sering memiliki kebiasaan dan strategi keuangan yang berbeda yang berkontribusi pada peningkatan kekayaan mereka. Memahami faktor-faktor ini dapat memberikan wawasan berharga bagi mereka yang mencari untuk membangun kekayaan mereka sendiri. Laporan ini akan membahas alasan-alasan utama mengapa orang kaya terus mengumpulkan kekayaan, menyoroti strategi seperti tidak membiarkan uang menganggur, memprioritaskan akumulasi aset, dan menggunakan utang secara strategis.
Individu kaya memperlakukan uang tunai seperti alat yang harus terus bekerja untuk mereka. Mereka menghindari menyimpan sejumlah besar uang di rekening tabungan yang tidak menghasilkan apa pun, selain potongan biaya administrasi dan layanan. Sebaliknya, mereka mengalokasikan dana ke aset produktif seperti obligasi pemerintah, reksa dana, properti penghasil pendapatan, saham perusahaan swasta, atau ekspansi bisnis. Ini memastikan bahwa kekayaan mereka tumbuh seiring waktu.
Setiap pengeluaran diperiksa melalui lensa apakah menghasilkan arus kas atau hanya sekali pengeluaran. Pola pikir ini membentuk kebiasaan keuangan mereka, menyebabkan mereka berinvestasi dalam aset yang nilainya meningkat, seperti saham yang membayar dividen, bukan menghabiskan uang untuk barang yang nilainya menurun seperti mobil baru. Merek-merek mewah menjadi prioritas kedua setelah investasi yang nilainya terus meningkat.
Orang kaya sering memperkaya diri mereka sendiri dengan kedisiplinan dalam membeli aset dari hasil investasi sebelumnya. Mereka mungkin menetapkan kontribusi bulanan ke rekening pialang atau mendaftar dalam program reinvestasi dividen yang secara otomatis membeli lebih banyak saham setiap kali mereka menerima pembayaran dividen. Beberapa menggunakan pendapatan dari kepemilikan properti untuk membeli properti lain atau setidaknya untuk membayar cicilan bangunan lain yang baru saja dibeli, sehingga menggandakan aset mereka.
Orang kaya memandang utang sebagai alat strategis. Perbedaan pentingnya adalah apa yang dibiayai oleh utang tersebut. Mereka meminjam untuk membeli properti yang menghasilkan pendapatan sewa melebihi pembayaran KPR. Mereka menggunakan pinjaman bisnis untuk memperluas usaha mereka, memberi keuntungan yang jauh lebih tinggi daripada suku bunga utang. Hal ini berbeda secara mendasar dari utang konsumsi seperti ambil kredit untuk liburan, pinjaman mobil, atau pinjaman pribadi untuk pengeluaran gaya hidup lainnya.
Orang kaya biasanya memiliki perlindungan aset yang luas, mulai dari asuransi jiwa, asuransi properti, hingga polis payung dengan batas di atas standar. Mereka juga membentuk trust dan struktur perlindungan hukum untuk menghindari risiko gugatan. Dengan menjaga rasio utang rendah, mereka tetap aman ketika pendapatan terganggu. Mereka juga melakukan diversifikasi dan hedging untuk menghindari konsentrasi risiko. Bagi mereka, menjaga kekayaan jauh lebih mudah daripada membangunnya kembali.
Orang kaya cenderung fokus membangun kekayaan dari sumber pendapatan pasif. Banyak dari mereka membangun atau membeli bisnis yang tetap berjalan tanpa keterlibatan harian, mengakuisisi franchise atau waralaba dengan sistem yang stabil, hingga memperoleh royalti dan lisensi. Dengan begitu uang mereka dapat terus mengalir terlepas dari apakah mereka bekerja pada hari itu atau tidak. Membuat mereka semakin kaya meski hanya tiduran seharian di rumah.
Pajak merupakan kewajiban seluruh warga negara. Pada akhirnya uang atau kekayaan yang mereka bisa nikmati setelah pembayaran pajak. Karena itu, orang kaya menaruh perhatian besar pada optimalisasi pajak mereka.
Pengambilan keputusan berdasarkan emosi kerap kali memberikan dampak yang sangat besar terhadap kepemilikan harta. Orang kaya tidak mengejar investasi yang sedang tren atau membuat keputusan berdasarkan rasa takut selama volatilitas pasar. Selain itu mereka tidak berbelanja secara emosional di saat stres atau meninggalkan rencana jangka panjang ketika gangguan jangka pendek menjadi semakin besar. Sebaliknya, mereka mengikuti sistem investasi berbasis aturan, berpegang pada model risiko yang ditentukan, dan tetap berpegang pada prinsip keuangan yang dipegang.
Alasan lain orang kaya bisa menjadi semakin kaya karena mereka memiliki akses yang lebih luas dari kebanyakan kelas menengah. Orang kaya menjaga jaringan dengan sesama orang kaya untuk mendapatkan aliran peluang yang tidak ada di pasar publik. Peluang investasi privat, kemitraan bisnis, dan sumber modal sering berasal dari lingkaran ini. Ketika kelas menengah hanya berinvestasi pada instrumen publik, orang kaya masuk duluan ke peluang pre-IPO atau kerja sama dengan pihak-pihak yang sudah berpengalaman.
Perbedaan terbesar antara kelas menengah dan orang kaya adalah cara memandang waktu. Kelas menengah bertanya, "Apa yang bisa saya dapat bulan ini?" Orang kaya bertanya, "Berapa nilainya dalam 15 tahun?" Dengan cara berpikir seperti ini, mereka dapat membangun instrumen investasi untuk jangka yang sangat panjang. Hingga tanpa sadar aset ini terus berkembang dan terus memperkaya mereka.
Pengelolaan Uang
Investasi Produktif
Penggunaan Utang Strategis