Key insights and market outlook
PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) melaporkan kinerja keuangan yang mengecewakan untuk Kuartal III 2025 dengan pendapatan menurun 10,86% secara tahunan menjadi US$3,61 miliar dan laba bersih turun 34,84% secara tahunan menjadi US$810,55 juta. Penurunan ini terutama disebabkan oleh penurunan pendapatan dari segmen Pertambangan dan Perdagangan Batubara serta segmen lainnya. Meskipun terdapat pertumbuhan 3,0% secara tahunan pada pendapatan domestik menjadi US$824 juta dalam sembilan bulan pertama 2025, kinerja keseluruhan terpengaruh oleh penurunan 14,3% secara tahunan pada pendapatan ekspor menjadi US$2,78 miliar.
PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) melaporkan hasil keuangan yang mengecewakan untuk kuartal ketiga 2025, dengan penurunan signifikan pada pendapatan dan laba bersih. Perusahaan mencatat pendapatan sebesar US$3,61 miliar untuk Kuartal III 2025, yang merupakan penurunan 10,86% secara tahunan. Laba bersih juga mengalami penurunan substansial sebesar 34,84% secara tahunan menjadi US$810,55 juta.
Penurunan kinerja keuangan terutama disebabkan oleh segmen Pertambangan dan Perdagangan Batubara, di mana pendapatan menurun sebesar 2,1% kuartal ke kuartal menjadi US$1,16 miliar. Selain itu, segmen lain mengalami penurunan tajam sebesar 33,3% kuartal ke kuartal menjadi US$5 juta. Pendapatan dari ekspor, yang merupakan bagian signifikan dari pendapatan AADI, turun sebesar 14,3% secara tahunan menjadi US$2,78 miliar dalam sembilan bulan pertama 2025. Sebaliknya, pendapatan domestik menunjukkan ketahanan dengan pertumbuhan 3,0% secara tahunan, mencapai US$824 juta selama periode yang sama.
Kinerja keuangan AADI sangat terkait dengan fluktuasi harga batubara dan permintaan pasar. Tantangan saat ini di pasar batubara telah berdampak langsung pada pendapatan dan profitabilitas perusahaan. Ketika industri batubara terus menghadapi tantangan ini, kinerja AADI di kuartal mendatang akan dipantau secara ketat oleh investor dan analis.
Q3 2025 Financial Results Announcement
Revenue Decline Due to Coal Price Challenges