Key insights and market outlook
PT Bank QNB Indonesia Tbk. (BKSW) berencana menutup beberapa cabang di Indonesia mulai 5 Januari 2026, sementara melaporkan penurunan laba bersih sebesar 78,66% YoY menjadi Rp14,46 miliar hingga Q3 2025. Pendapatan bunga bersih bank turun 21,90% YoY menjadi Rp273,54 miliar karena beban bunga yang meningkat. Meskipun demikian, bank mencatat pertumbuhan kredit sebesar 17,05% menjadi Rp8,39 triliun dan pertumbuhan dana pihak ketiga sebesar 31,13% menjadi Rp7,22 triliun.
PT Bank QNB Indonesia Tbk. (BKSW), anak perusahaan QNB Group dari Qatar, mengumumkan rencana untuk menutup beberapa cabang di Indonesia mulai 5 Januari 2026. Cabang yang terpengaruh termasuk Bandung Dago, Semarang Gajah Mada, Surabaya Darmo, dan Jakarta Pluit, dengan operasional yang akan dikonsolidasikan ke cabang Jakarta lainnya seperti Jakarta SCBD dan Jakarta Gajah Mada.
Bank ini melaporkan penurunan signifikan dalam kinerja keuangan Q3 2025. Laba bersih periode ini turun 78,66% YoY menjadi Rp14,46 miliar dibandingkan Rp67,78 miliar periode sama tahun lalu. Penurunan ini terutama disebabkan oleh penurunan pendapatan bunga bersih sebesar 21,90% YoY menjadi Rp273,54 miliar dari Rp350,23 miliar. Penurunan ini disebabkan oleh peningkatan beban bunga sebesar 20,64% menjadi Rp243,97 miliar, meskipun terjadi penurunan pendapatan bunga sebesar 6,33% menjadi Rp517,51 miliar.
Di sisi positif, Bank QNB Indonesia berhasil mengurangi beban operasional lainnya sebesar 18,08% YoY menjadi Rp221,94 miliar. Pengurangan spesifik terlihat pada beban promosi (turun 61,74% menjadi Rp901 juta), beban lain-lain (turun 32,04%), dan impairment (turun 19,71%). Namun, beban personalia meningkat sebesar 7,07% menjadi Rp202,61 miliar. Akibatnya, laba operasional turun sebesar 34,94% YoY menjadi Rp51,59 miliar.
Meski menghadapi tantangan, bank menunjukkan pertumbuhan dalam aktivitas perbankan inti. Total kredit yang disalurkan tumbuh sebesar 17,05% YoY menjadi Rp8,39 triliun, sementara dana pihak ketiga (DPK) meningkat sebesar 31,13% menjadi Rp7,22 triliun. Pertumbuhan DPK didorong oleh peningkatan signifikan pada simpanan tabungan (naik 105,93% menjadi Rp614,67 miliar) dan deposito (naik 32,62% menjadi Rp5,90 triliun), meskipun giro menurun sebesar 6,78% menjadi Rp711,72 miliar.
Indikator kesehatan keuangan bank menunjukkan hasil yang beragam. Rasio kecukupan modal (CAR) menurun sedikit dari 61,55% menjadi 59,58%. Kualitas aset memburuk dengan NPL gross naik menjadi 3,15% dari 1,28%, dan NPL net meningkat menjadi 0,82% dari 0,19%. Marjin bunga bersih (NIM) menyusut dari 4,27% menjadi 3,14%, sementara rasio biaya terhadap pendapatan memburuk dari 88,36% menjadi 92,19%.
Branch Closure Announcement
Financial Performance Decline
Credit Growth