Key insights and market outlook
Bank Sampoerna mengidentifikasi sektor makanan dan minuman (F&B) lokal dan ritel sebagai segmen UMKM yang menjanjikan meskipun ada tantangan ekonomi di 2025. Bank ini menekankan pentingnya adaptasi digital dan praktik pemberian pinjaman yang prudent sambil memproyeksikan tekanan lanjutan pada UMKM karena ketidakpastian suku bunga global dan fluktuasi harga komoditas. Bank Sampoerna mempersiapkan diri menghadapi tantangan ini melalui kemitraan fintech strategis dan layanan perbankan personal.
PT Bank Sahabat Sampoerna telah mengidentifikasi sektor makanan dan minuman (F&B) lokal dan ritel sebagai segmen yang menjanjikan dalam lanskap UMKM, meskipun ada tekanan ekonomi sepanjang 2025. Menurut Henky Suryaputra, Direktur Finance & Business Planning Bank Sampoerna, sektor-sektor ini menunjukkan ketahanan relatif karena permintaan domestik yang stabil dan fleksibilitas model bisnis 1
Bank ini menyoroti bahwa UMKM menghadapi tantangan ganda: perubahan perilaku konsumen menuju transaksi digital dan biaya logistik yang meningkat. Namun, UMKM yang berhasil beradaptasi dengan digitalisasi menunjukkan pertumbuhan yang lebih kuat dibandingkan dengan yang masih mengandalkan model konvensional 1
Untuk menangkap peluang pertumbuhan sambil mengelola risiko, Bank Sampoerna menerapkan model Bank as a Service (BaaS) melalui kemitraan fintech, dikombinasikan dengan layanan personal melalui jaringan cabang mereka. Bank ini melihat peningkatan adopsi pembayaran digital sebagai peluang signifikan bagi pertumbuhan UMKM, terutama di sektor yang berorientasi domestik 1
Memasuki 2026, Bank Sampoerna mengantisipasi tantangan lanjutan bagi UMKM karena ketidakpastian suku bunga global dan volatilitas harga komoditas. Bank menekankan perlunya seleksi debitur yang hati-hati dan manajemen risiko sambil mempertahankan pendekatan pemberian pinjaman yang hati-hati.
Outlook bank ini konsisten dengan tren industri yang lebih luas. Gubernur BI, Perry Warjiyo, mencatat bahwa meskipun pertumbuhan kredit perbankan secara keseluruhan tetap positif sebesar 7,74% tahun-ke-tahun hingga November 2025, pertumbuhan kredit UMKM mengalami kontraksi sebesar 0,64% selama periode yang sama 1
MSME Lending Growth Contraction
Digital Payment Adoption Increase