Key insights and market outlook
Dapen BCA menilai instrumen SRBI masih menarik untuk investasi jangka pendek, dengan saat ini memegang Rp320 miliar (5,32% dari total investasi) per Desember 2025. Pengelola dana berencana untuk potensial meningkatkan investasi SRBI jika suku bunga menjadi lebih kompetitif dibandingkan deposito, sambil mempertahankan kebutuhan likuiditas. Portofolio investasi Dapen BCA didominasi oleh Surat Berharga Negara (SBN) sebesar 39,23%, diikuti oleh properti dan deposito.
Dana Pensiun BCA (Dapen BCA) masih menilai Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menarik untuk kebutuhan investasi jangka pendek. Per Desember 2025, Dapen BCA memegang Rp320 miliar dalam SRBI, yang mewakili 5,32% dari total investasinya. Portofolio dana secara keseluruhan didominasi oleh Surat Berharga Negara (SBN) sebesar 39,23%, diikuti oleh properti (15,22%), deposito (14,51%), dan investasi ekuitas korporasi (14,37%).
Budi Sutrisno, Direktur Utama Dapen BCA, menyatakan bahwa SRBI tetap menjadi instrumen penting untuk mengelola likuiditas bersama dengan deposito. Dana tersebut kemungkinan akan meningkatkan investasi SRBI jika instrumen tersebut menawarkan suku bunga yang lebih kompetitif dibandingkan deposito tradisional, sambil mempertimbangkan kondisi pasar dan kebutuhan likuiditas dengan hati-hati. Pendekatan strategis ini sejalan dengan fokus dana pensiun pada stabilitas, keamanan, dan arus kas jangka panjang.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa investasi industri dana pensiun dalam SRBI menurun menjadi Rp4,09 triliun (1,06% dari total investasi) per Oktober 2025, mengikuti pengurangan penerbitan SRBI sepanjang tahun. Meskipun ada tren ini, Ogi Prastomiyono, Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, percaya bahwa SRBI tetap potensial menarik bagi dana pensiun yang mencari investasi jangka pendek dengan risiko rendah dan return kompetitif.
SRBI Investment Review
Pension Fund Portfolio Adjustment