Key insights and market outlook
Bank Indonesia (BI) mengidentifikasi adanya distorsi pasar yang signifikan di sektor perbankan akibat suku bunga spesial yang ditawarkan kepada deposan besar senilai Rp2.656,79 triliun per Oktober 2025. Jumlah ini mewakili 27% dari total Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan. Praktik ini menyebabkan biaya dana perbankan tetap tinggi meskipun BI telah memotong suku bunga acuan sebesar 150 bps tahun ini. BI berencana memperkuat efektivitas Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk mendorong bank menurunkan suku bunga kredit.
Bank Indonesia (BI) telah menyoroti distorsi signifikan di pasar perbankan yang disebabkan oleh bank yang menawarkan suku bunga spesial kepada deposan besar. Per Oktober 2025, suku bunga spesial ini berlaku untuk deposito senilai Rp2.656,79 triliun, mewakili 27% dari total Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan. Rata-rata suku bunga untuk deposito besar ini mencapai 5,21%, dibandingkan dengan suku bunga deposito 1 bulan standar sebesar 4,25% pada periode yang sama.
Data menunjukkan bahwa entitas pemerintah (BUMN dan Non-BUMN) menjadi salah satu penerima utama suku bunga spesial ini, dengan total deposito sebesar Rp817,16 triliun pada rata-rata suku bunga 5,10%. Fenomena ini menciptakan inefisiensi besar dalam struktur pendanaan bank, yang tercermin dari spread yang melebar antara suku bunga deposito spesial dan tingkat bunga penjaminan maksimum oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Biaya dana yang tinggi memaksa bank mempertahankan suku bunga kredit yang tinggi untuk menutup biaya mereka, sehingga penurunan suku bunga kredit hanya sebesar 20 bps sepanjang tahun hingga Oktober 2025. Penyesuaian yang lambat ini kontras dengan pengurangan 150 bps pada suku bunga acuan BI selama periode yang sama.
Untuk mengatasi rigiditas ini, BI berencana memperkuat efektivitas Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) melalui jalur suku bunga. Bank yang lambat menurunkan suku bunga kredit diwajibkan memelihara Giro Wajib Minimum (GWM) yang lebih tinggi, sementara bank yang responsif akan menerima insentif likuiditas. BI juga akan terus berkoordinasi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk mengambil langkah bersama guna mempercepat penurunan suku bunga spesial untuk deposan besar dan mengurangi spread antara suku bunga deposito dan kredit.
BI Identifies Banking Distortion
Special Rate Disclosure
Macroprudential Policy Adjustment