Key insights and market outlook
Bank Indonesia (BI) menanggapi kritik Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terkait dampak Sekuritas Rupiah BI (SRBI) terhadap perlambatan pertumbuhan uang beredar. Deputi Gubernur Destry Damayanti menjelaskan bahwa BI menggunakan bauran kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. BI telah membeli obligasi pemerintah senilai Rp290 triliun dan menyediakan fasilitas FX swap dan repo yang melebihi Rp1.000 triliun.
Bank Indonesia (BI) telah menanggapi kritik Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terkait dampak Sekuritas Rupiah BI (SRBI) terhadap pertumbuhan uang beredar. Dalam Financial Forum di Bursa Efek Indonesia, Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti menjelaskan bahwa BI menggunakan bauran kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas keuangan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
Destry Damayanti menekankan bahwa BI secara aktif menjalankan kebijakan moneter ekspansif di samping langkah kontraksi. Bank sentral telah membeli obligasi pemerintah senilai Rp290 triliun sejak awal 2025, menunjukkan komitmennya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Selain itu, BI telah menyediakan likuiditas signifikan melalui fasilitas FX swap dan repo yang melebihi Rp1.000 triliun.
Mengenai SRBI, Destry menjelaskan bahwa instrumen ini digunakan untuk manajemen likuiditas dan menjaga stabilitas keuangan. Ketika terjadi arus modal keluar yang signifikan, SRBI berfungsi sebagai pemicu untuk menarik arus modal investor dengan menyesuaikan suku bunganya. Setelah mengalami penurunan suku bunga yang signifikan mengikuti penurunan BI rate sebesar 125 basis poin tahun ini, BI telah melakukan normalisasi suku bunga SRBI, yang mulai menarik arus masuk ke SRBI dan obligasi pemerintah.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah mengungkapkan kekhawatiran bahwa SRBI menyerap likuiditas signifikan dari sistem keuangan, yang berpotensi memperlambat pertumbuhan uang beredar. Ia menunjukkan bahwa meskipun menyuntikkan Rp200 triliun ke sistem keuangan melalui Himbara dan Bank Jakarta pada September 2025, pertumbuhan base money melambat dari 13% di September menjadi 7% di Oktober 2025. Purbaya menduga bahwa SRBI mungkin menjadi faktor yang berkontribusi pada perlambatan ini.
Destry Damayanti menanggapi kekhawatiran Purbaya dengan menekankan bahwa kebijakan moneter BI tidak hanya kontraksi. Ia menyoroti upaya bank sentral untuk menyeimbangkan stabilitas dan pertumbuhan melalui berbagai instrumen moneter. Diskusi ini berlangsung dalam Financial Forum yang dihadiri oleh para pemangku kepentingan keuangan, termasuk Ketua OJK Mahendra Siregar dan Ketua LPS.
SRBI Rate Adjustment
Government Bond Purchase
FX Swap Facility Expansion