Key insights and market outlook
Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa bank menjadi lebih selektif dalam memberikan kredit kepada konsumen dan UMKM karena meningkatnya risiko kredit. Pertumbuhan kredit UMKM mengalami kontraksi sebesar 0,64% year-on-year pada November 2025. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa meskipun minat penyaluran kredit perbankan masih positif, mereka memperketat persyaratan untuk kredit konsumsi dan UMKM. Pinjaman yang belum dicairkan mencapai Rp2.509,4 triliun, menunjukkan potensi pertumbuhan di masa depan.
Bank Indonesia (BI) telah mengamati bahwa bank-bank menjadi lebih berhati-hati dalam praktik pemberian pinjaman, terutama pada segmen konsumen dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Peningkatan selektivitas ini terutama disebabkan oleh meningkatnya risiko kredit yang terkait dengan sektor-sektor ini. Menurut Gubernur BI Perry Warjiyo, meskipun minat penyaluran kredit perbankan secara keseluruhan tetap kuat, persyaratan pemberian kredit untuk konsumen dan UMKM menjadi lebih ketat.
Dampak dari peningkatan kehati-hatian ini terlihat jelas pada angka pertumbuhan kredit UMKM. Pada November 2025, pertumbuhan kredit UMKM mengalami kontraksi sebesar 0,64% year-on-year. Kontraksi ini menyoroti tantangan yang dihadapi UMKM dalam mengakses kredit selama periode peningkatan risiko kredit. Meskipun demikian, pertumbuhan kredit secara keseluruhan untuk November 2025 mencapai 7,74% year-on-year, meningkat dari pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 7,36%.
Sektor perbankan di Indonesia memiliki pinjaman yang belum dicairkan sebesar Rp2.509,4 triliun, yang merupakan 23,18% dari total fasilitas kredit yang tersedia. Angka yang signifikan ini menunjukkan potensi pertumbuhan kredit di masa depan, tergantung pada kondisi ekonomi dan permintaan peminjam. Gubernur Warjiyo menekankan perlunya upaya terus-menerus untuk meningkatkan pertumbuhan kredit guna mendukung ekspansi ekonomi. Ia mencatat bahwa permintaan kredit tetap lesu, dipengaruhi oleh pendekatan 'wait and see' yang dilakukan bisnis dan penurunan suku bunga pinjaman yang lambat.
Transmisi pelonggaran kebijakan moneter ke suku bunga pinjaman terbukti lambat. Meskipun terjadi penurunan BI rate sebesar 125 basis poin, penurunan suku bunga pinjaman lebih moderat. Suku bunga deposito satu bulan turun 67 basis poin dari 4,81% awal 2025 menjadi 4,15% pada November 2025. Suku bunga pinjaman hanya turun 24 basis poin dari 9,20% menjadi 8,96% selama periode yang sama. Keterlambatan penyesuaian suku bunga ini mencerminkan kompleksitas respons sektor perbankan terhadap perubahan kebijakan moneter.
BI memproyeksikan bahwa pertumbuhan kredit untuk 2025 akan berada pada batas bawah kisaran 8-11% year-on-year dan mengharapkan perbaikan pada 2026. Untuk mengatasi tantangan ini, BI berencana memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk mendorong pertumbuhan kredit dan memperbaiki struktur suku bunga. Pendekatan kolaboratif ini bertujuan menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan aktivitas sektor perbankan.
MSME Loan Growth Contraction
Credit Risk Increase
Monetary Policy Easing