Key insights and market outlook
Bank Indonesia (BI) telah agresif terlibat dalam pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 dengan menyerap setidaknya Rp289,9 triliun surat utang pemerintah, terutama melalui mekanisme debt switching. Langkah ini memicu kekhawatiran tentang independensi bank sentral karena semakin dalam keterlibatannya dalam kebijakan fiskal. Gubernur BI Perry Warjiyo menekankan bahwa tindakan ini adalah bagian dari sinergi erat antara kebijakan moneter dan fiskal untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Bank Indonesia (BI) telah meningkatkan secara signifikan partisipasinya dalam pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 dengan menyerap setidaknya Rp289,9 triliun surat utang pemerintah. Keterlibatan besar ini terutama dilakukan melalui mekanisme debt switching, di mana obligasi lama yang jatuh tempo digantikan dengan obligasi baru yang memiliki tenor lebih panjang. Tujuan utama strategi ini adalah menjaga profil utang pemerintah yang sehat di tengah kinerja APBN 2025 yang masih menghadapi tantangan.
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa pembelian obligasi pemerintah oleh bank sentral merupakan kolaborasi erat antara kebijakan moneter dan fiskal. Warjiyo menekankan bahwa koordinasi ini sangat penting untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Kehadiran Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) November 2025 semakin menguatkan kolaborasi ini, meskipun Djiwandono tidak memiliki hak suara.
Peningkatan keterlibatan BI dalam pembiayaan APBN telah memicu kekhawatiran tentang potensi erosi independensi bank sentral. Secara historis, BI telah bergerak menuju otonomi yang lebih besar sejak era reformasi. Namun, sejak pandemi COVID-19 dan pemberlakuan Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (PPSK), BI telah dipaksa untuk terlibat dalam aktivitas di luar mandat utamanya untuk menjaga stabilitas mata uang.
Ekonom Bank CIMB Niaga Mika Martumpal mencatat bahwa ruang bagi BI untuk memangkas suku bunga lebih lanjut semakin menyempit karena selisih antara BI Rate dan inflasi domestik yang semakin mengecil. Meskipun demikian, Mika percaya bahwa pemangkasan suku bunga tambahan masih mungkin dilakukan pada Desember 2025, tergantung pada stabilisasi nilai tukar USD/IDR di bawah 16.500. Kombinasi antara suku bunga yang lebih rendah dan sentimen ekonomi yang positif diharapkan dapat merangsang pertumbuhan kredit dan aktivitas ekonomi.
BI tidak hanya terlibat dalam pembiayaan APBN secara langsung, tetapi juga telah mengadopsi stance kebijakan moneter yang lebih adaptif. Sementara bank sentral terus mendukung pertumbuhan ekonomi, BI juga fokus pada mandat utamanya untuk menjaga stabilitas mata uang. Penurunan BI Rate sebesar 150 basis poin sepanjang 2025, bersama dengan penurunan nilai outstanding instrumen moneter BI (SRBI) dari Rp916,97 triliun menjadi Rp699,30 triliun, telah membantu meningkatkan likuiditas domestik dan mengurangi biaya pendanaan perbankan.
BI's Aggressive APBN Financing
Debt Switching Mechanism Implementation
Monetary and Fiscal Policy Coordination