Key insights and market outlook
Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia mencatat penguatan 21,61% year-to-date hingga 19 Desember 2025, beberapa saham blue chip justru melemahkan indeks. Khususnya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 16,80%, yang berdampak signifikan pada IHSG karena kapitalisasi pasarnya yang besar, sekitar Rp 982 triliun. Artikel ini mempertanyakan apakah saham blue chip yang underperform ini layak dibeli.
Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia menunjukkan penguatan 21,61% year-to-date hingga 19 Desember 2025, beberapa saham blue chip besar justru melemahkan indeks. Indeks LQ45, yang melacak kinerja saham terbesar dan paling likuid, naik 1,95% menjadi 853,54 selama periode yang sama.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), salah satu bank swasta terbesar di Indonesia, menjadi penekan terbesar IHSG di 2025 dengan penurunan 16,80%. Penurunan ini saja mengurangi IHSG sebesar 99,72 poin. Dampak signifikan ini disebabkan oleh kapitalisasi pasar BBCA yang sangat besar, sekitar Rp 982 triliun, menjadikannya salah satu saham paling berpengaruh di pasar Indonesia.
Saham blue chip biasanya adalah saham perusahaan mapan dengan kinerja keuangan kuat dan kapitalisasi pasar besar, seringkali mencapai puluhan atau ratusan triliun rupiah. Saham-saham ini umumnya menjadi komponen indeks utama seperti LQ45. Meskipun umumnya stabil, beberapa saham blue chip mengalami underperformance tahun ini, memunculkan pertanyaan tentang potensi investasinya.
IHSG Performance 2025
Blue Chip Stock Underperformance