Key insights and market outlook
BRI Ventures menilai fenomena tech winter belum sepenuhnya berakhir, mempertahankan pendekatan investasi yang disiplin dengan fokus pada perusahaan yang memiliki fundamental bisnis kuat dan jalur menuju profitabilitas yang jelas. Industri modal ventura diprediksi akan menjadi lebih prudent di masa depan, dengan keseimbangan antara peluang pertumbuhan dan pengelolaan risiko menjadi sangat penting. Portofolio modal ventura di Indonesia tetap terdiversifikasi, dengan alokasi terbesar pada sektor perdagangan (46,48% per Oktober 2025).
PT BRI Ventura Investama (BRI Ventures) menilai bahwa fenomena tech winter masih mempengaruhi industri modal ventura, menurut Indra Bayu Gunawan, Chief Financial Officer perusahaan. Sebagai respons, BRI Ventures mempertahankan strategi investasi yang disiplin, fokus pada bisnis dengan fundamental kuat dan jalur profitabilitas yang jelas. Pendekatan selektif dan adaptif ini memungkinkan perusahaan untuk menghadapi dinamika industri sambil memprioritaskan sektor dengan potensi pertumbuhan berkelanjutan dan sinergi dalam ekosistem BRI Group.
Industri modal ventura kini menghadapi tantangan menyeimbangkan peluang pertumbuhan dengan pengelolaan risiko yang efektif, terutama di tengah ketidakpastian global dan dampaknya pada sektor fintech. BRI Ventures menilai pendekatan seimbang ini sangat krusial untuk kesuksesan di masa depan. Indra menekankan bahwa perusahaan modal ventura menjadi lebih prudent, perlu mempertimbangkan ketidakpastian global, perubahan regulasi, dan kemampuan startup beradaptasi dengan ekspektasi pasar yang terus berkembang.
Per Oktober 2025, portofolio modal ventura di Indonesia tetap terdiversifikasi menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dengan alokasi terbesar pada sektor perdagangan (Rp7,86 triliun atau 46,48%), diikuti jasa penyewaan (Rp2,17 triliun atau 12,85%) dan informasi dan komunikasi (Rp1,81 triliun atau 10,68%). Para ahli menilai bahwa sementara perdagangan mendominasi investasi venture debt corporation (VDC), venture capital corporation (VCC) lebih fokus pada telekomunikasi dan teknologi informasi.
Nailul Huda dari Digital Economy Center Celios mencatat bahwa meskipun penyaluran VDC dan VCC diperkirakan pulih, tantangan tetap ada. VDC menghadapi masalah terkait daya beli konsumen, sementara VCC harus mengatasi kepercayaan investor terhadap iklim ekonomi digital Indonesia. Masalah seperti mismanajemen dan penipuan terus mempengaruhi persepsi investor. Meski ada tantangan, pertumbuhan diperkirakan membaik, terutama untuk VCC, dengan potensi pertumbuhan dua digit di tahun mendatang.
Venture Capital Investment Trends
Tech Winter Impact Assessment