Key insights and market outlook
Kamboja menuding Thailand menggunakan gas beracun dalam konflik perbatasan yang sedang berlangsung, dengan prajurit Kamboja Kun Yong mengklaim dia terpaksa mundur dari posisi garis depan setelah mengalami kesulitan bernapas setelah serangan udara Thailand. Konflik ini telah mengakibatkan lebih dari 40 kematian dan menggusur lebih dari setengah juta orang, menandai salah satu bentrokan terberat antara kedua negara dalam beberapa dekade terakhir.
Konflik perbatasan antara Kamboja dan Thailand telah mengambil arah berbahaya dengan Kamboja menuding Thailand menggunakan gas beracun dalam operasi militer terbaru. Kun Yong, seorang prajurit Kamboja, melaporkan terpaksa mundur dari posisi garis depan setelah mengalami kesulitan bernapas parah setelah serangan udara Thailand. "Rasanya seperti saya tersedak," kata Kun Yong kepada Reuters dari tempat tidur rumah sakit di Provinsi Banteay Meanchey, dengan istrinya di sampingnya.
Konflik yang dimulai awal Desember ini telah mengakibatkan lebih dari 40 kematian dan menggusur lebih dari setengah juta orang, menjadikannya salah satu bentrokan terberat antara kedua negara dalam sejarah terbaru. Situasi tetap genting karena kedua negara mempertahankan posisi mereka di sepanjang area perbatasan yang dipersengketakan.
Tuduhan penggunaan gas beracun ini menimbulkan kekhawatiran serius internasional, karena tindakan tersebut melanggar hukum kemanusiaan internasional. Penggunaan agen kimia dalam konflik dilarang keras di bawah berbagai perjanjian dan konvensi internasional.
Eskalasi ini mengancam tidak hanya hubungan bilateral antara Kamboja dan Thailand tetapi juga stabilitas regional di Asia Tenggara. Upaya diplomatik kemungkinan akan meningkat karena negara-negara tetangga dan organisasi internasional memantau situasi yang berkembang dengan cermat.