Key insights and market outlook
China telah menghentikan ekspor logam tanah jarang ke Jepang, meningkatkan ketegangan antara kedua negara. Langkah ini mengikuti komentar Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang menyatakan bahwa invasi China atas Taiwan akan mengancam keberadaan Jepang. Larangan ekspor, yang diumumkan oleh Kementerian Perdagangan China, akan segera berlaku dan mencakup tidak hanya logam tanah jarang tetapi juga komponen elektronik canggih dan kedirgantaraan. China memandang pernyataan Takaichi sebagai campur tangan dalam urusan internalnya dan pelanggaran prinsip Satu-China.
China telah mengumumkan penghentian segera ekspor logam tanah jarang dan bahan kritis lainnya ke Jepang, menandai eskalasi signifikan dalam hubungan yang memburuk antara kedua kekuatan Asia. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap pernyataan baru-baru ini oleh Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, yang memperingatkan bahwa invasi China ke Taiwan akan menimbulkan ancaman eksistensial bagi Jepang.
Larangan ekspor, yang dikonfirmasi oleh Kementerian Perdagangan China, meluas melampaui logam tanah jarang untuk mencakup elektronik canggih, komponen kedirgantaraan, drone, dan teknologi nuklir. Bahan-bahan ini sangat penting bagi infrastruktur teknologi Jepang dan industri pertahanannya, terutama untuk produksi persenjataan canggih seperti jet tempur F-35. Detail spesifik produk yang terkena dampak akan dirinci dalam peraturan yang akan datang.
Kementerian Perdagangan China membenarkan pembatasan ekspor sebagai respons terhadap apa yang dianggapnya sebagai campur tangan Takaichi dalam urusan internal China, khususnya melanggar prinsip Satu-China. Pemerintah China telah memperingatkan bahwa organisasi atau individu yang melanggar kontrol ekspor ini akan menghadapi konsekuensi hukum. Pertengkaran diplomatik ini menyoroti dinamika keamanan regional yang semakin kompleks, terutama terkait status Taiwan.
Larangan ekspor logam tanah jarang sangat signifikan karena China adalah pemasok global dominan bahan kritis ini, yang sangat penting bagi berbagai industri teknologi tinggi termasuk elektronik dan teknologi energi terbarukan. Ketergantungan Jepang pada logam tanah jarang China untuk sektor manufaktur membuatnya sangat rentan terhadap gangguan ini.
Perkembangan terbaru ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan regional dan klaim China atas Taiwan. Sementara China tidak pernah memerintah Taiwan, China secara konsisten menegaskan kedaulatannya atas pulau tersebut dan tidak mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk mencapai reunifikasi. Komentar Jepang telah membawa ketegangan yang mendidih ini ke permukaan, dengan China menanggapi dengan tegas apa yang dianggapnya sebagai campur tangan eksternal dalam klaim teritorialnya.
China Export Ban on Rare Earths
Escalation in China-Japan Tensions
Trade Policy Shift