Key insights and market outlook
Program Three-North Shelterbelt, atau yang dikenal sebagai Tembok Hijau Raksasa China, telah berhasil meningkatkan tutupan hutan negara tersebut dari 10% pada 1949 menjadi 25% pada 2024. Namun, sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa penghijauan berskala besar ini justru menyebabkan penurunan ketersediaan air di wilayah timur dan barat laut, yang mencakup sekitar 74% dari total daratan China.
Program Three-North Shelterbelt China, yang umum dikenal sebagai Tembok Hijau Raksasa, telah menjadi salah satu proyek ekologi paling ambisius di negara tersebut sejak diluncurkan pada 1978. Inisiatif ini bertujuan untuk melawan erosi tanah dan mengurangi badai pasir di wilayah utara China melalui upaya penghijauan masif. Laporan resmi menunjukkan bahwa proyek ini telah mencapai keberhasilan signifikan dalam meningkatkan tutupan hutan dari 10% pada 1949 menjadi sekitar 25% pada 2024, dengan lebih dari 116.000 mil persegi hutan yang ditanam.
Penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Earth's Future mengungkapkan bahwa peningkatan vegetasi berskala besar ini telah membawa konsekuensi tak terduga pada distribusi air di seluruh China. Peneliti dari Tianjin University, China Agricultural University, dan Utrecht University menemukan bahwa antara 2001 dan 2020, peningkatan tutupan vegetasi menyebabkan peningkatan evapotranspirasi - proses gabungan penguapan air dari permukaan tanah dan transpirasi melalui daun tanaman. Fenomena ini mengakibatkan penurunan ketersediaan air di wilayah timur yang dipengaruhi monsun dan wilayah kering barat laut, yang secara kolektif mencakup sekitar 74% dari total luas daratan China.
Temuan studi ini menyoroti hubungan kompleks antara upaya penghijauan berskala besar dan siklus hidrologi regional. Sementara Tembok Hijau Raksasa telah berhasil dalam mengurangi erosi tanah dan meningkatkan tutupan hutan, dampaknya terhadap sumber daya air memerlukan pendekatan yang lebih nuansa dalam proyek ekologi masa depan. Penelitian ini menyarankan bahwa para pembuat kebijakan harus mempertimbangkan potensi konsekuensi hidrologis dari program vegetasi masif untuk memastikan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.