Key insights and market outlook
Banjir bandang baru-baru ini di Sumatera telah menyebabkan kerusakan signifikan, dengan para ahli menghubungkan 80% dampaknya pada faktor lingkungan bukan hanya cuaca ekstrem. Bencana ini mengakibatkan 1.059 orang meninggal, 192 orang hilang, dan 147 rumah rusak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Para peneliti memperingatkan bahwa perubahan iklim akan terus meningkatkan risiko bencana di wilayah ini hingga 2040.
Banjir bandang baru-baru ini di Sumatera telah menunjukkan potensi menghancurkan dari kombinasi faktor cuaca dan lingkungan. Menurut Profesor Erma Yulihastin, peneliti senior di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), meskipun Siklon Senyar berkontribusi sekitar 20% terhadap kerusakan, perubahan lingkungan menyumbang sekitar 80% dampaknya. Penilaian ini disampaikan dalam diskusi publik 'Risiko Cuaca Ekstrem dan Solusi Ekstrem' yang diadakan secara daring pada 18 Desember 2025.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa banjir tersebut mengakibatkan 1.059 orang meninggal, 192 orang hilang, dan 147 rumah rusak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Jumlah korban ini lima kali lebih tinggi daripada kerusakan yang disebabkan oleh Siklon Seroja di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 2021, meskipun keduanya sama-sama merupakan siklon tropis kategori 3.
Penelitian ini menyoroti kekhawatiran bahwa perubahan iklim akan terus meningkatkan kerentanan wilayah terhadap bencana alam hingga 2040. Ketika suhu global meningkat, Sumatera menghadapi risiko lebih tinggi dari peristiwa cuaca ekstrem yang diperparah oleh degradasi lingkungan. Para ahli menekankan perlunya strategi mitigasi komprehensif untuk mengatasi perubahan iklim dan perlindungan lingkungan.
Flash Flood Disaster
Climate Change Impact Assessment