Key insights and market outlook
Presiden Kolombia Gustavo Petro berjanji untuk mengangkat senjata lagi jika Amerika Serikat melakukan intervensi militer terhadap Kolombia. Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan meningkat antara Petro dan Presiden AS Donald Trump, terutama terkait ancaman Trump terhadap Kolombia dalam konteks pemberantasan narkotika. Petro, mantan pejuang gerilya kiri, menekankan komitmennya untuk membela negaranya sambil mengacu pada tindakan AS di Venezuela baru-baru ini.
Presiden Kolombia Gustavo Petro telah membuat pernyataan tegas berjanji untuk mengangkat senjata lagi jika Amerika Serikat melakukan intervensi militer terhadap Kolombia. Peringatan ini muncul seiring meningkatnya ketegangan antara Petro dan Presiden AS Donald Trump, terutama terkait isu pemberantasan narkotika dan keamanan regional. Petro, yang memiliki latar belakang sebagai pejuang gerilya kiri, menekankan bahwa meskipun dia telah bersumpah untuk tidak menyentuh senjata lagi, dia akan membuat pengecualian untuk membela negaranya.
Pernyataan Petro bukan sekadar retorika politik biasa tetapi berakar pada latar belakangnya sebagai mantan anggota gerakan gerilya M-19. Latar belakang ini memberi bobot pada ancamannya karena dia tidak hanya membuat pernyataan kosong. Situasi ini sangat sensitif mengingat tindakan AS baru-baru ini di Venezuela yang diawasi ketat di seluruh wilayah.
Ketegangan antara Kolombia dan AS di bawah kepemimpinan Petro dan Trump masing-masing menyoroti dinamika geopolitik kompleks yang terjadi di wilayah tersebut. Petro telah menjadi pengkritik vokal kebijakan Trump, terutama di Amerika Latin, dan ancaman Trump terhadap Kolombia dipandang sebagai bagian dari strategi yang lebih luas untuk memerangi perdagangan narkotika. Namun, respons Petro menunjukkan sikap tegas tentang kedaulatan dan pertahanan nasional.