Key insights and market outlook
Indeks dolar AS (DXY) telah jatuh di bawah level psikologis 100, namun ekonom percaya bahwa hal ini belum menjadi katalis untuk penguatan rupiah, yang masih dibayangi tekanan domestik. Penurunan DXY dikaitkan dengan faktor-faktor struktural, termasuk meningkatnya utang AS dan tren negara-negara beralih dari dolar AS sebagai mata uang cadangan.
Indeks dolar AS (DXY) telah melanjutkan tren pelemahan sejak awal tahun, dengan penurunan bulanan sebesar 1,46% dan penurunan tahun-ke-tahun sebesar 9,70% ke level 97.961, menurut Trading Economics. Ekonom Wijayanto Samirin dari Universitas Paramadina mengaitkan penurunan ini dengan faktor-faktor struktural. Pertama, meningkatnya utang AS telah membuat kondisi fiskal lebih rentan dan meningkatkan risiko fiskal. Kedua, tren negara-negara beralih dari dolar AS ke mata uang keras lain dan emas sebagai mata uang cadangan juga telah berkontribusi pada penurunan. Ketiga, gerakan banyak negara untuk menggunakan mata uang lokal untuk transaksi bukan dolar AS akan menekan kebutuhan akan dolar AS.
Meskipun penurunan DXY, rupiah masih dibayangi tekanan faktor domestik. Kekuatan rupiah tidak hanya bergantung pada performa DXY tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi domestik. Oleh karena itu, penurunan DXY tidak secara langsung berarti penguatan rupiah.
Dalam kesimpulan, penurunan DXY merupakan hasil dari faktor-faktor struktural dan diharapkan menjadi tren jangka panjang. Implikasi untuk rupiah kompleks dan bergantung pada berbagai faktor domestik dan internasional. Seiring dengan perkembangan lanskap ekonomi global, penting untuk memantau perkembangan di pasar valas dan dampaknya pada ekonomi Indonesia.
Penurunan DXY
Tekanan Faktor Domestik