Key insights and market outlook
Survei konsensus ekonomi Bloomberg menunjukkan bahwa Bank Indonesia kemungkinan besar akan mempertahankan BI Rate di level 4,75% pada rapat di Desember 2025, dengan 22 dari 34 ekonom memprediksi penahanan suku bunga sementara 12 ekonom lainnya memprediksi penurunan 25 basis poin menjadi 4,50%. Keputusan ini akan diawasi ketat untuk arah kebijakan moneter di tengah sinyal ekonomi yang bervariasi termasuk pertumbuhan kredit yang stagnan dan indikator sektor riil yang membaik.
Rapat kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) pada Desember 2025 mendatang memicu ekspektasi yang terbagi di kalangan ekonom, dengan survei Bloomberg menunjukkan konsensus yang terbagi tentang langkah selanjutnya BI. Survei menunjukkan bahwa 22 dari 34 ekonom (65%) memperkirakan BI akan mempertahankan BI Rate saat ini di 4,75%, sementara 12 ekonom (35%) memprediksi penurunan 25 basis poin menjadi 4,50%.
Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN), Hosianna Evalita Situmorang, mendukung prediksi penahanan suku bunga dengan alasan fokus BI pada menstabilkan Rupiah di tengah prospek ekonomi domestik yang membaik. Demikian pula David Sumual, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), yang menyatakan bahwa BI membutuhkan waktu untuk mengevaluasi transmisi keputusan kebijakan sebelumnya dan dampaknya terhadap perekonomian. Pertumbuhan kredit yang stagnan di level 7,36% year-on-year per Oktober 2025 menjadi perhatian utama. Namun, sinyal positif dari sektor riil seperti perbaikan Purchasing Managers' Index (PMI) dan penjualan eceran mengindikasikan potensi pemulihan ekonomi di Q4/2025.
Sebaliknya, Fikri C. Permana dari KB Valury Sekuritas berpendapat bahwa ada ruang bagi BI untuk melonggarkan kebijakan moneter lebih lanjut melalui pemotongan suku bunga. Dia menekankan bahwa pemotongan suku bunga The Fed baru-baru ini telah menstabilkan Rupiah dan menciptakan lingkungan yang mendukung bagi BI untuk menurunkan suku bunga. Dengan selisih suku bunga 75 basis poin antara BI dan The Fed yang dianggap menarik untuk aliran modal asing, Fikri meyakini bahwa pemotongan suku bunga dapat memberikan stimulus yang dibutuhkan untuk pertumbuhan ekonomi domestik. Dia menekankan bahwa inflasi domestik yang terkendali dan penurunan risiko global menciptakan lingkungan yang kondusif untuk langkah tersebut.
Keputusan ini akan diawasi ketat untuk implikasinya terhadap arah kebijakan moneter Indonesia dan pasar keuangan. Penahanan suku bunga akan menandakan fokus BI pada stabilitas mata uang dan pengendalian inflasi, sementara pemotongan suku bunga dapat mengindikasikan pergeseran ke arah kebijakan moneter yang lebih akomodatif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Hasilnya kemungkinan akan mempengaruhi arus modal, imbal hasil obligasi, dan sentimen pasar secara keseluruhan dalam jangka pendek.
BI Monetary Policy Meeting December 2025
Potential Interest Rate Decision