Key insights and market outlook
Perusahaan fintech Samir menyambut baik proposal Bank Indonesia untuk menggunakan riwayat transaksi QRIS dalam penilaian skor kredit pada layanan pinjaman online. Chief Technology Officer Andreas menyatakan bahwa meskipun pendekatan ini dapat memberikan wawasan transaksi tambahan, terutama bagi usaha mikro, implementasinya perlu dilakukan dengan hati-hati disertai dengan standarisasi data dan perlindungan privasi yang tepat. Saat ini, Samir menggunakan kombinasi riwayat pembayaran, pola penggunaan produk, dan indikator perilaku keuangan untuk menilai kelayakan kredit peminjam.
PT Sahabat Mikro Fintek (Samir), sebuah perusahaan fintech terkemuka, telah menyatakan dukungannya terhadap rencana Bank Indonesia untuk menggunakan riwayat transaksi QRIS dalam penilaian kredit untuk industri pinjaman online. Menurut Andreas, Chief Technology Officer Samir, perkembangan ini dipandang positif karena dapat memperkaya praktik penilaian risiko di sektor fintech.
Sementara menyambut sumber data baru, Andreas menekankan perlunya implementasi yang hati-hati. Pertimbangan utama termasuk menetapkan standar data yang jelas, memastikan langkah-langkah perlindungan data yang kuat, dan mengonfirmasi kesiapan infrastruktur. "Prinsip kehati-hatian tetap menjadi prioritas kami," kata Andreas, menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara inovasi dan manajemen risiko.
Samir saat ini menggunakan pendekatan komprehensif untuk mengevaluasi kelayakan kredit peminjam, dengan menggabungkan faktor-faktor seperti:
Penilaian multi-aspek ini membantu menjaga kualitas risiko sambil melindungi kepentingan konsumen. Andreas mencatat bahwa meskipun data QRIS dapat memberikan wawasan tambahan yang berharga, terutama untuk usaha mikro, keakuratannya dapat bervariasi di berbagai segmen. Oleh karena itu, data QRIS harus digunakan bersama dengan variabel lain untuk menghindari penilaian yang bias.
Andreas menguraikan beberapa tantangan yang terkait dengan implementasi riwayat transaksi QRIS dalam penilaian kredit, termasuk:
Untuk mengatasi tantangan ini, Samir berencana untuk mengadopsi pendekatan integrasi bertahap, melakukan validasi model yang ketat, dan memastikan kepatuhan penuh terhadap persyaratan regulasi. Strategi ini bertujuan untuk menyeimbangkan manfaat sumber data baru dengan kebutuhan akan keamanan dan akurasi dalam penilaian kredit.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Juda Agung, baru-baru ini mengungkapkan rencana untuk menggunakan jejak digital QRIS sebagai dasar untuk penilaian kredit, terutama untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Inisiatif ini didukung oleh teknologi kecerdasan buatan (AI), yang dapat memproses data transaksi digital yang dihasilkan melalui QRIS. Juda Agung menggambarkan AI sebagai "asisten yang sangat cerdas" yang dapat secara signifikan meningkatkan inklusi keuangan dengan memperluas akses kredit bagi segmen yang kurang terlayani.
BI's Proposal to Use QRIS Data for Credit Scoring
Fintech Firm Samir's Response to BI's Proposal