Key insights and market outlook
Ketika masyarakat Indonesia menetapkan target keuangan baru untuk tahun 2026, beberapa kebiasaan keuangan umum berpotensi menghalangi kemajuan mereka. 39% responden masih meminjam dari teman/keluarga untuk mempertahankan gaya hidup, sementara 14% memiliki pengeluaran melebihi pendapatan. Kebiasaan lain yang merugikan termasuk membayar hanya tagihan minimum kartu kredit (56% responden), pengeluaran berbasis FOMO (76%), dan mengejar keuntungan cepat melalui spekulasi berlebihan (10%). Mengatasi pola-pola ini sangat krusial untuk mencapai stabilitas finansial.
Memasuki tahun baru, banyak orang Indonesia kembali menyusun target keuangan, mulai dari keinginan sederhana seperti makan di restoran hingga rencana besar seperti liburan keluarga ke luar negeri. Namun, refleksi terhadap tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa banyak resolusi yang gagal terwujud. Memahami penyebab kegagalan ini sangat penting, dengan kebiasaan keuangan harian memainkan peran signifikan. Menurut OCBC Financial Fitness Index 2025, beberapa perilaku keuangan terus-menerus menghalangi kemajuan menuju tujuan finansial.
39% responden mengakui sering meminjam uang dari teman atau keluarga, terutama untuk mempertahankan gaya hidup. Pola ini mencerminkan masalah mendasar dari kebiasaan pengeluaran yang tidak berkelanjutan di mana pengeluaran melebihi pendapatan, mengilustrasikan pepatah "lebih besar pasak daripada tiang". Ketegangan finansial semacam ini membuat menabung dan berinvestasi semakin sulit.
Survei mengungkapkan bahwa 14% responden memiliki pengeluaran yang melebihi pendapatan. Situasi ini seringkali tidak berasal dari pendapatan rendah, tapi dari gaya hidup yang tidak sejalan dengan kemampuan finansial. Tanpa penganggaran yang tepat, menjaga kesehatan finansial menjadi sulit.
56% responden hanya membayar tagihan minimum kartu kredit, menciptakan rasa aman semu. Meskipun ini memberikan kelegaan jangka pendek, hal ini berisiko menumpuk bunga dan mengubah kartu kredit menjadi beban keuangan jangka panjang.
Tekanan sosial sangat mempengaruhi keputusan keuangan, dengan 76% responden mengakui menghabiskan uang untuk mengikuti gaya hidup teman sebaya. Baik itu bersosialisasi, bepergian, atau mengikuti tren belanja, pengeluaran tak terkendali dapat menggerus tujuan keuangan jangka panjang.
Prevalensi kisah sukses cepat di media sosial telah mendorong 10% responden untuk terlibat dalam spekulasi berlebihan demi keuntungan cepat, seringkali tanpa pemahaman memadai. Perilaku berisiko ini sering kali berujung pada kerugian finansial.
Walaupun terdapat tantangan-tantangan tersebut, tahun baru memberikan kesempatan untuk mengatur ulang perilaku keuangan. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang pola pengeluaran, pengelolaan utang, dan tujuan jangka panjang, individu dapat membangun fondasi keuangan yang lebih sehat. Meningkatnya ketersediaan alat pengelolaan keuangan digital dari berbagai bank memudahkan orang untuk memantau dan mengelola keuangan mereka dengan lebih efektif. Pendekatan yang lebih terfokus dan disiplin diharapkan dapat membantu menjaga konsistensi finansial dan meningkatkan ketahanan di tengah tantangan ekonomi yang terus berlanjut.
Financial Resolution Planning
Debt Management Awareness
Financial Literacy Improvement