Key insights and market outlook
Investor asing telah melepas saham perbankan Indonesia tahun ini, dengan BBCA menghadapi net sell Rp26,94 triliun dan BMRI Rp17,38 triliun. Namun, analis memprediksi potensi pembalikan arus modal di 2026 didorong oleh pemotongan suku bunga BI dan stimulus pemerintah. Penjualan ini telah menyebabkan penurunan harga yang signifikan: BBCA turun 12,4%, BMRI turun 17,02%, dan BBRI turun 3,68% sepanjang tahun ini.
Saham perbankan Indonesia, terutama emiten besar seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), telah menghadapi tekanan jual yang signifikan dari investor asing sepanjang tahun 2025. Penjualan ini telah menghasilkan angka net sell yang substansial: Rp26,94 triliun untuk BBCA, Rp17,38 triliun untuk BMRI, Rp4,71 triliun untuk BBNI, dan Rp3,64 triliun untuk BBRI.
Analis Riset Saham Farell Nathanael dari OCBC Sekuritas mengidentifikasi beberapa faktor yang berkontribusi pada sentimen negatif investor asing terhadap saham perbankan Indonesia. Masalah utama termasuk kualitas aset yang memburuk, yang terlihat dari kenaikan kredit bermasalah (NPL), dan pertumbuhan pinjaman yang melambat karena kendala likuiditas. Faktor-faktor ini secara kolektif telah berkontribusi pada penjualan besar-besaran di pasar.
Penjualan besar-besaran oleh investor asing telah berdampak signifikan pada harga saham. Saham perbankan besar telah mencatat penurunan yang signifikan sepanjang tahun: BBCA turun 12,4%, BMRI turun 17,02%, dan BBRI turun 3,68%. Meskipun penurunan ini, analis mulai melihat level harga saat ini sebagai peluang beli yang menarik.
Analis optimis tentang potensi pembalikan sentimen investor asing memasuki 2026. Beberapa faktor diharapkan mendorong perubahan ini: pertama, pemotongan suku bunga lanjutan oleh Bank Indonesia yang akan merangsang pertumbuhan kredit dan meningkatkan fundamental sektor perbankan; kedua, langkah-langkah stimulus pemerintah yang kemungkinan akan menyuntikkan likuiditas ke sistem keuangan. Kombinasi faktor-faktor ini diharapkan membuat saham perbankan Indonesia lebih menarik bagi investor asing.
Suntikan likuiditas sebesar Rp200 triliun oleh pemerintah, yang bersumber dari Bank Indonesia, dipandang sebagai katalis positif bagi kinerja fundamental sektor perbankan. Suntikan likuiditas ini, dikombinasikan dengan sikap kebijakan moneter yang akomodatif dari bank sentral, menciptakan lingkungan yang menguntungkan bagi saham perbankan. Ketika suku bunga menurun, likuiditas asing diharapkan mengalir ke aset yang memberikan yield lebih tinggi, termasuk saham perbankan Indonesia.
Kondisi pasar saat ini menghadirkan apa yang dianggap analis sebagai waktu yang tepat untuk mengakumulasi posisi pada saham perbankan yang berkualitas. Kombinasi fundamental yang membaik, dukungan pemerintah, dan valuasi yang menarik menciptakan kasus investasi yang menarik untuk bank-bank besar Indonesia.
Foreign Investor Sell-off
Bank Indonesia Rate Cuts
Government Liquidity Injection