Key insights and market outlook
Produksi emas PT Freeport Indonesia diproyeksikan turun 30% di tahun 2026 akibat longsor di tambang Grasberg Block Cave (GBC) di Papua. Insiden ini telah menghentikan operasional tambang, sehingga mempengaruhi kapasitas produksi normal perusahaan yang mencapai 50-60 ton emas per tahun. Sebagian besar output emas Freeport disuplai ke PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).
PT Freeport Indonesia menghadapi tantangan operasional signifikan setelah longsor terjadi di tambang Grasberg Block Cave (GBC) di Papua, Indonesia. Insiden pada September 2025 ini memaksa perusahaan menghentikan operasional, sehingga berdampak pada penurunan produksi emas yang substansial. Menurut Jenpino Ngabdi, Wakil Presiden Direktur Freeport Indonesia, produksi emas perusahaan diproyeksikan turun 30% di tahun 2026 dibandingkan level produksi normal.
Dalam kondisi normal, smelter Freeport Indonesia di Gresik dapat memproduksi sekitar 50-60 ton emas per tahun. Namun, akibat gangguan operasional saat ini, produksi tahun 2025 diperkirakan jauh lebih rendah, berpotensi hanya mencapai 15 ton. Sebagian besar output emas Freeport disuplai ke PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), menunjukkan keterkaitan antar pemain utama di pasar logam mulia Indonesia.
Perusahaan mengantisipasi kembali ke level produksi normal pada tahun 2027, dengan asumsi masalah operasional di tambang GBC dapat diselesaikan sepenuhnya. Insiden longsor ini menggarisbawahi risiko operasional yang dihadapi operasi pertambangan besar, terutama di lingkungan geologi kompleks seperti Papua. Kemampuan Freeport Indonesia mengelola risiko ini akan sangat krusial dalam menjaga stabilitas produksi dan memenuhi ekspektasi pasar.
Landslide Incident at GBC Mine
30% Production Decline in 2026
Operational Disruption