Key insights and market outlook
Kepala Ekonom Global J.P. Morgan, Bruce Kasman, memperingatkan bahwa risiko ekonomi global tahun 2026 berasal dari penurunan konsumsi di ekonomi besar seperti AS dan China, ditambah dengan inflasi tinggi akibat potensi Perang Dagang 2.0. AS dan China menyumbang sekitar 45% dari PDB global, membuat kesehatan ekonomi mereka sangat krusial. Meskipun probabilitas resesi tahun 2026 diproyeksikan 35%, kebijakan stimulus diharapkan dapat mendukung konsumsi.
Ekonomi global menghadapi risiko signifikan di tahun 2026, terutama didorong oleh penurunan konsumsi di ekonomi besar seperti Amerika Serikat dan China, menurut Bruce Kasman, Kepala Ekonom Global J.P. Morgan. Kedua ekonomi ini secara bersamaan menyumbang sekitar 45% dari PDB global, dengan AS menyumbang sekitar 26% dan China sekitar 19%. Perlambatan yang diantisipasi semakin diperumit oleh inflasi yang tetap tinggi akibat potensi eskalasi ketegangan perdagangan, yang sering disebut sebagai Perang Dagang 2.0.
Meskipun outlook yang menantang, J.P. Morgan memproyeksikan bahwa probabilitas resesi di tahun 2026 adalah 35%. Penilaian risiko yang relatif moderat ini dikaitkan dengan implementasi kebijakan stimulus fiskal di negara maju dan berkembang untuk meningkatkan konsumsi. Lanskap ekonomi global tetap sensitif terhadap berbagai faktor, termasuk kebijakan perdagangan dan tren inflasi.
Ekonomi global juga sedang melalui fase proteksionisme baru, ditandai oleh kenaikan tarif perdagangan dan munculnya blok perdagangan. AS dan Uni Eropa berpotensi membentuk satu blok, sementara China dan Rusia bersekutu dalam blok lain. Perkembangan geopolitik ini diperkirakan akan berdampak signifikan terhadap pertumbuhan perdagangan global, yang diproyeksikan melambat dari 2,4% di tahun 2025 menjadi 0,5% di tahun 2026 secara tahunan.
Inflasi yang tinggi, terutama di ekonomi maju seperti AS, kemungkinan akan membatasi kemampuan bank sentral, termasuk Federal Reserve, untuk melanjutkan siklus pelonggaran kebijakan moneter. Ekonomi global di tahun 2026 diperkirakan akan tetap berada dalam rezim suku bunga tinggi. Menurut kalkulasi oleh Fed, kenaikan 10% biaya perdagangan global akibat tarif yang lebih tinggi pada barang input bisa meningkatkan inflasi CPI sebesar 0,3%. Untuk barang jadi, kenaikan tarif serupa bisa menyebabkan peningkatan inflasi CPI sebesar 0,5%. Jika barang input dan barang jadi sama-sama terkena tarif 10%, inflasi CPI bisa naik sebesar 0,8%.
Global Consumption Slowdown
Trade War Escalation Risk
Monetary Policy Constraints