Global Economy Faces Risks from Consumption Slowdown and Trade Tensions
Back
Back
7
Impact
6
Urgency
Sentiment Analysis
BearishNeutralBullish
PublishedDec 17
Sources1 verified

Perekonomian Global Menghadapi Risiko dari Perlambatan Konsumsi dan Ketegangan Perdagangan

Tim Editorial AnalisaHub·17 Desember 2025
Executive Summary
01

Executive Summary

Key insights and market outlook

Kepala Ekonom Global J.P. Morgan, Bruce Kasman, memperingatkan bahwa risiko ekonomi global tahun 2026 berasal dari penurunan konsumsi di ekonomi besar seperti AS dan China, ditambah dengan inflasi tinggi akibat potensi Perang Dagang 2.0. AS dan China menyumbang sekitar 45% dari PDB global, membuat kesehatan ekonomi mereka sangat krusial. Meskipun probabilitas resesi tahun 2026 diproyeksikan 35%, kebijakan stimulus diharapkan dapat mendukung konsumsi.

Full Analysis
02

Deep Dive Analysis

Risiko Ekonomi Global Tahun 2026 Disoroti

Perlambatan Konsumsi dan Ketegangan Perdagangan Menjadi Ancaman Utama

Ekonomi global menghadapi risiko signifikan di tahun 2026, terutama didorong oleh penurunan konsumsi di ekonomi besar seperti Amerika Serikat dan China, menurut Bruce Kasman, Kepala Ekonom Global J.P. Morgan. Kedua ekonomi ini secara bersamaan menyumbang sekitar 45% dari PDB global, dengan AS menyumbang sekitar 26% dan China sekitar 19%. Perlambatan yang diantisipasi semakin diperumit oleh inflasi yang tetap tinggi akibat potensi eskalasi ketegangan perdagangan, yang sering disebut sebagai Perang Dagang 2.0.

Proyeksi Ekonomi dan Risiko Resesi

Meskipun outlook yang menantang, J.P. Morgan memproyeksikan bahwa probabilitas resesi di tahun 2026 adalah 35%. Penilaian risiko yang relatif moderat ini dikaitkan dengan implementasi kebijakan stimulus fiskal di negara maju dan berkembang untuk meningkatkan konsumsi. Lanskap ekonomi global tetap sensitif terhadap berbagai faktor, termasuk kebijakan perdagangan dan tren inflasi.

Kebijakan Perdagangan dan Kekhawatiran Inflasi

Ekonomi global juga sedang melalui fase proteksionisme baru, ditandai oleh kenaikan tarif perdagangan dan munculnya blok perdagangan. AS dan Uni Eropa berpotensi membentuk satu blok, sementara China dan Rusia bersekutu dalam blok lain. Perkembangan geopolitik ini diperkirakan akan berdampak signifikan terhadap pertumbuhan perdagangan global, yang diproyeksikan melambat dari 2,4% di tahun 2025 menjadi 0,5% di tahun 2026 secara tahunan.

Implikasi Kebijakan Moneter

Inflasi yang tinggi, terutama di ekonomi maju seperti AS, kemungkinan akan membatasi kemampuan bank sentral, termasuk Federal Reserve, untuk melanjutkan siklus pelonggaran kebijakan moneter. Ekonomi global di tahun 2026 diperkirakan akan tetap berada dalam rezim suku bunga tinggi. Menurut kalkulasi oleh Fed, kenaikan 10% biaya perdagangan global akibat tarif yang lebih tinggi pada barang input bisa meningkatkan inflasi CPI sebesar 0,3%. Untuk barang jadi, kenaikan tarif serupa bisa menyebabkan peningkatan inflasi CPI sebesar 0,5%. Jika barang input dan barang jadi sama-sama terkena tarif 10%, inflasi CPI bisa naik sebesar 0,8%.

Original Sources
03

Source References

Click any source to view the original article in a new tab

Story Info

Published
1 month ago
Read Time
12 min
Sources
1 verified

Topics Covered

Global Economic RisksTrade TensionsInflation Concerns

Key Events

1

Global Consumption Slowdown

2

Trade War Escalation Risk

3

Monetary Policy Constraints

Timeline from 1 verified sources