Key insights and market outlook
Hong Kong menggelar pemilihan legislatif pada 7 Desember 2025, di tengah suasana duka publik menyusul kebakaran bangunan tinggi yang menewaskan sedikitnya 159 orang. Pemilu ini hanya diikuti oleh calon 'patriotik' yang disetujui pemerintah, sementara otoritas menghadapi sorotan atas penanganan kebakaran dan investigasi selanjutnya.
Hong Kong menggelar pemilihan legislatif pada 7 Desember 2025, dalam keadaan luar biasa. Kota ini masih berduka akibat kebakaran bangunan tinggi yang terjadi beberapa hari sebelumnya, menewaskan sedikitnya 159 orang dan melukai banyak lainnya. Kebakaran yang digambarkan sebagai salah satu terburuk dalam hampir 80 tahun ini telah memicu kemarahan dan duka publik yang meluas.
Pemilu ini ditandai dengan absennya calon oposisi, karena hanya mereka yang dianggap 'patriotik' oleh pemerintah Hong Kong - yang didukung oleh otoritas China - yang diizinkan untuk berpartisipasi. Partisipasi selektif ini menimbulkan kekhawatiran tentang sifat demokratis proses pemilu. Sementara itu, otoritas telah meluncurkan investigasi kriminal dan korupsi atas kebakaran tersebut, menyebut penggunaan bahan bangunan yang tidak memenuhi standar dalam renovasi bangunan tinggi sebagai penyebab utama.
Keterkaitan antara pemilu dan tragedi nasional ini menambah tekanan pada otoritas Hong Kong. Kemarahan dan duka publik atas kebakaran diperparah oleh persepsi tentang kesalahan penanganan pemerintah dan upaya menutup-nutupi. Situasi ini menyoroti interaksi kompleks antara peristiwa politik dan sentimen publik di Hong Kong.