Key insights and market outlook
PT Hutama Karya (Persero) mempercepat pembangunan 196 unit Huntara di Aceh Tamiang, Aceh, sebagai bagian dari upaya pemulihan pascabencana banjir. Proyek ini dilaksanakan 24 jam nonstop dengan pengawasan mutu yang diperketat melalui kolaborasi tujuh BUMN Karya di bawah Danantara. Hunian sementara ini dirancang untuk dapat difungsionalkan pada 1 Januari 2026 dan dilengkapi dengan fasilitas penting seperti dapur umum, area cuci, dan sanitasi.
PT Hutama Karya (Persero), sebuah perusahaan konstruksi milik negara, mempercepat pembangunan Huntara (Hunian Sementara) di Aceh Tamiang, Aceh. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya pemulihan pascabencana banjir dan tanah longsor di wilayah tersebut. Proyek konstruksi ini melibatkan kolaborasi antara tujuh BUMN Karya di bawah konsorsium Danantara.
Pembangunan ini dilaksanakan 24 jam nonstop dengan pola kerja shifting untuk memastikan penyelesaian tepat waktu. Pengawasan mutu yang diperketat diterapkan untuk menjamin bahwa unit hunian memenuhi standar yang dipersyaratkan. Per Desember 2025, progres pekerjaan difokuskan pada elemen struktural kritis termasuk pekerjaan fondasi, rangka atap, rangka dinding, dan pemasangan pintu dan jendela.
Setiap unit Huntara dirancang dengan dimensi 4,5 meter x 4,5 meter, memberikan ruang yang memadai bagi keluarga yang terpaksa mengungsi. Tata letak hunian dikonfigurasi untuk mengakomodasi kebutuhan dasar selama masa tinggal sementara. Selain unit hunian individual, pembangunan ini juga mencakup fasilitas komunal seperti dapur bersama, area cuci, musala, dan fasilitas sanitasi. Utilitas dasar seperti instalasi listrik dan air juga disiapkan untuk membuat hunian ini fungsional.
Di luar proyek Huntara, Hutama Karya berkontribusi pada upaya pemulihan secara keseluruhan di daerah terdampak. Ini termasuk rehabilitasi infrastruktur seperti restorasi fasilitas air bersih melalui pengoperasian Instalasi Pengolahan Air (IPA) Rantau yang telah dikembalikan ke kapasitas normal 40 liter per detik. Perusahaan ini juga terlibat dalam pembersihan material menggunakan peralatan berat seperti excavator di area seperti Pesantren Darul Muklisin di Tanjung Karang, Aceh Tamiang.
Hutama Karya juga berupaya memulihkan konektivitas di wilayah terdampak bencana dengan merehabilitasi jembatan-jembatan kritis. Proyek-proyek penting termasuk rekonstruksi Jembatan Lawe Mengkudu dengan bentang 36 meter dan Jembatan Penanggalan dengan bentang 48 meter di Kutacane, Aceh Tenggara. Proyek infrastruktur ini sangat krusial untuk memfasilitasi pergerakan orang dan distribusi logistik di daerah terdampak.
Aktivitas konstruksi dan rehabilitasi dilaksanakan dengan penekanan kuat pada keselamatan kerja dan koordinasi dengan otoritas setempat. Hal ini memastikan bahwa upaya pemulihan tidak hanya efektif tapi juga tepat sasaran untuk memenuhi kebutuhan aktual masyarakat terdampak.
Accelerated Huntara Construction
Post-Disaster Recovery Efforts
Infrastructure Rehabilitation Projects