Key insights and market outlook
Perusahaan pelat merah Indonesia, Inalum, mempercepat hilirisasi aluminium untuk memenuhi proyeksi lonjakan permintaan nasional sebesar 600% dalam tiga dekade mendatang, yang didorong oleh sektor kendaraan listrik (EV) dan ekspansi energi terbarukan. Pemerintah juga mempertimbangkan perluasan pasokan gas subsidi (HGBT) ke industri aluminium untuk menekan biaya produksi, yang saat ini hanya diberikan kepada tujuh industri.
Indonesia mengambil langkah signifikan untuk mempercepat hilirisasi aluminium karena negara menghadapi proyeksi peningkatan permintaan aluminium nasional sebesar 600% dalam tiga dekade mendatang 1
Untuk lebih mendukung industri aluminium, Kementerian Perindustrian mempertimbangkan perluasan skema pasokan gas subsidi (HGBT) yang saat ini tersedia bagi tujuh industri - termasuk pupuk, petrokimia, dan baja - kepada produsen aluminium 2
Peningkatan permintaan aluminium sebagian besar disebabkan oleh peran pentingnya dalam teknologi baru. Baterai kendaraan listrik membutuhkan kandungan aluminium yang signifikan, dengan satu pack baterai menggunakan sekitar 18% aluminium. Selain itu, pembangunan pembangkit listrik tenaga surya membutuhkan sekitar 21 ton aluminium per megawatt kapasitas. Arif Haendra, Direktur Pengembangan Usaha Inalum, menyoroti bahwa Indonesia berada pada titik krusial untuk mengembangkan ekosistem industri aluminium yang komprehensif, dari operasi hulu hingga hilir.
Meski prospeknya menjanjikan, Indonesia saat ini sangat bergantung pada impor aluminium, dengan 54% konsumsi nasional diimpor antara 2018 dan 2024, sementara kontribusi Inalum hanya 46%. Ketergantungan ini menggarisbawahi urgensi percepatan pengembangan hilir untuk mencapai swasembada dan memanfaatkan permintaan global yang meningkat. Inisiatif pemerintah, bersama dengan rencana strategis Inalum, diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia di pasar aluminium global.
Aluminium Downstreaming Acceleration
HGBT Expansion Consideration