Key insights and market outlook
Pemerintah Indonesia telah memperkenalkan regulasi baru, termasuk PMK No. 5/2025 dan PP No. 40/2025, untuk mempercepat transisi energi nasional. Kebijakan ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mempromosikan energi terbarukan. Perkembangan penting termasuk rencana ekspansi Pertamina Geothermal Energy (PGE) dan proyek inovatif seperti Green Hydrogen, mendukung target Indonesia mencapai Net Zero Emission (NZE) pada 2060.
Indonesia memasuki fase penting dalam perjalanan menuju kemandirian energi bersih dan berkelanjutan. Pemerintah menegaskan komitmennya mempercepat transisi energi nasional melalui regulasi dan inovasi yang berpihak pada masa depan hijau. Perkembangan terbaru termasuk diperkenalkannya PMK No. 5/2025 dan PP No. 40/2025 yang menjadi payung hukum baru dalam pengelolaan energi nasional.
Regulasi baru ini mencerminkan keberanian pemerintah menyeimbangkan ambisi pengurangan emisi dengan kebutuhan menjaga kestabilan sistem kelistrikan nasional. Kebijakan ini diharapkan menjadi katalisator dalam mempercepat phase-out pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara sekaligus membuka ruang lebih besar bagi energi terbarukan untuk tumbuh. Muhamad Saleh dari Centre of Economic and Law Studies (CELIOS) menyoroti bahwa PMK No. 5/2025 membentuk platform transisi energi sebagai instrumen fiskal untuk mendukung percepatan penutupan PLTU dan pengakhiran Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL).
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) semakin strategis dalam memperkuat fondasi kedaulatan energi dan mempercepat transformasi menuju energi bersih. Dengan potensi panas bumi mencapai 24 gigawatt atau sekitar 40% dari cadangan dunia, PGE memiliki mandat besar untuk mengubah potensi ini menjadi kekuatan nyata bangsa. Pada 2025, PGE mencatat sejumlah capaian signifikan seperti beroperasinya PLTP Lumut Balai Unit 2 berkapasitas 55 MW di Sumatera Selatan serta dimulainya pembangunan proyek Gunung Tiga 55 MW di Lampung.
PGE tidak hanya mengandalkan panas bumi tetapi juga memperluas peran inovatifnya melalui proyek Green Hydrogen di Ulubelu, sebagai bagian dari peta jalan menuju Net Zero Emission (NZE) 2060. Komitmen keberlanjutan ini membuahkan pengakuan global: PGE berhasil masuk daftar Top 50 ESG Global versi Sustainalytics dengan skor risiko ESG 7,1 serta meraih 18 penghargaan PROPER Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Seiring meningkatnya penetrasi energi surya dan angin yang bersifat intermiten, muncul tantangan baru dalam menjaga kestabilan jaringan listrik. Untuk mengatasi hal ini, Wärtsilä Energy dan Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar workshop tentang stabilitas sistem kelistrikan Indonesia. Acara ini dirancang untuk memperdalam pemahaman mengenai bagaimana teknologi seperti Internal Combustion Engine (ICE) dapat menyeimbangkan sistem kelistrikan di tengah pertumbuhan energi terbarukan.
Sinergi antara kebijakan fiskal yang berpihak pada lingkungan, inovasi teknologi, dan komitmen industri membentuk fondasi kokoh bagi transformasi energi Indonesia. Dengan dukungan penuh pemerintah dan keterlibatan aktif pelaku industri, langkah ini menandai babak baru perjalanan energi nasional - dari ketergantungan pada bahan bakar fosil menuju kemandirian energi bersih yang inklusif dan berkeadilan. Optimisme ini menegaskan bahwa transisi energi bukan sekadar agenda lingkungan, tetapi visi kebangsaan untuk memastikan masa depan Indonesia yang lebih hijau, tangguh, dan berdaulat secara energi.
New Energy Regulations Introduced
PGE Expansion Plans
Green Hydrogen Project Launch