Key insights and market outlook
Pensiunnya Amerika Serikat dari Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia. Meskipun kehilangan potensi pembiayaan besar untuk komitmen iklim, Indonesia kini dapat mengeksplorasi opsi pembiayaan alternatif dengan negara-negara Global South. Peralihan ini berpotensi memperkuat kerja sama Selatan-Selatan dan membuka sumber pendanaan baru untuk target iklim dan transisi energi Indonesia.
Keputusan Amerika Serikat untuk menarik diri dari Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) selama pemerintahan Presiden Donald Trump memiliki implikasi signifikan bagi lanskap pembiayaan iklim Indonesia. Meskipun langkah ini menghilangkan AS sebagai pembiayaan potensial besar untuk komitmen iklim Indonesia, sekaligus membuka peluang baru untuk kerja sama dengan negara-negara Global South.
Indonesia kini memiliki kesempatan untuk mendiversifikasi sumber pembiayaan iklim dan berpotensi memperkuat kerja sama Selatan-Selatan. Pergeseran strategis ini dapat mengarah pada solusi pembiayaan yang lebih sesuai dengan kebutuhan spesifik iklim dan transisi energi Indonesia. Negara-negara Global South mungkin menawarkan istilah dan kondisi pembiayaan yang lebih selaras dengan prioritas pembangunan Indonesia.
Lanskap yang berubah ini menghadirkan beberapa peluang penting bagi Indonesia:
Sementara peluang baru ini muncul, Indonesia harus menavigasi beberapa tantangan:
Pensiunnya AS dari UNFCCC telah menciptakan lingkungan baru yang dinamis untuk strategi pembiayaan iklim Indonesia. Dengan secara proaktif mengeksplorasi dan mengembangkan kemitraan pembiayaan alternatif, khususnya dengan negara-negara Global South, Indonesia berpotensi mengubah tantangan ini menjadi peluang strategis untuk memajukan agenda iklim dan transisi energinya.
US Withdrawal from UNFCCC
Alternative Climate Finance Exploration