Key insights and market outlook
Pemerintah Indonesia berencana mengganti Liquified Petroleum Gas (LPG) dengan Dimethyl Ether (DME) untuk keperluan memasak, dengan tujuan mengurangi impor LPG. Konsumsi LPG saat ini mencapai 10 juta ton/tahun, sementara produksi dalam negeri hanya 1,6 juta ton, sehingga membutuhkan impor 8,4 juta ton. DME dapat menggunakan infrastruktur LPG yang ada dan dianggap lebih ramah lingkungan, menghasilkan emisi gas rumah kaca 20% lebih rendah.
Pemerintah Indonesia berencana mengganti Liquified Petroleum Gas (LPG) dengan Dimethyl Ether (DME) untuk kebutuhan memasak rumah tangga. Keputusan ini didorong oleh kesenjangan besar antara konsumsi LPG nasional dan produksi dalam negeri. Saat ini, Indonesia mengkonsumsi sekitar 10 juta ton LPG per tahun, sementara produksi dalam negeri hanya memenuhi 1,6 juta ton dari kebutuhan tersebut, sehingga membutuhkan impor 8,4 juta ton LPG yang bernilai ratusan triliun Rupiah.
DME dianggap sebagai substitusi yang layak untuk LPG karena sifat kimia dan fisikanya yang mirip. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menekankan bahwa DME dapat menggunakan infrastruktur LPG yang ada, termasuk tabung, fasilitas penyimpanan, dan peralatan handling. Campuran 20% DME dan 80% LPG dapat digunakan pada kompor gas yang ada tanpa modifikasi. Selain itu, DME dapat diproduksi dari berbagai sumber energi, termasuk biomassa terbarukan, limbah, dan Coal Bed Methane (CBM), dengan batubara kalori rendah saat ini dianggap sebagai bahan baku yang paling layak untuk produksi DME di Indonesia.
Peralihan ke DME juga didorong oleh manfaat lingkungan. DME memiliki nilai kalor yang lebih rendah (7.749 Kcal/Kg) dibandingkan LPG (12.076 Kcal/Kg), namun densitasnya yang lebih tinggi mengkompensasi perbedaan ini. Yang lebih penting, DME dianggap lebih ramah lingkungan karena mudah terurai di atmosfer, tidak merusak lapisan ozon, dan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 20% dibandingkan LPG. Penggunaan DME dapat menurunkan emisi CO2 dari 930 kg menjadi 745 kg per tahun. Selain itu, pembakaran DME menghasilkan nyala api biru yang lebih stabil, tidak menghasilkan partikulat matter atau NOx, dan bebas sulfur.
Meskipun fasilitas produksi DME belum ada di Indonesia, Kementerian ESDM berkomitmen untuk mengembangkan kapabilitas teknis yang diperlukan untuk produksi dan pemanfaatan DME. Kementerian berencana memulai proses transisi tahun ini, meskipun timeline dan detail implementasi masih dalam proses finalisasi.
Transisi ke DME menghadirkan tantangan dan peluang bagi Indonesia. Meskipun mengurangi ketergantungan pada impor LPG dan berpotensi menurunkan emisi gas rumah kaca, hal ini juga membutuhkan investasi signifikan dalam infrastruktur produksi DME. Implementasi yang berhasil dapat memposisikan Indonesia sebagai pemimpin dalam transisi energi bersih di kawasan.
DME Implementation Plan Announcement
LPG Import Reduction Strategy