Indonesian Banking Credit Growth Remains Sluggish as Businesses Adopt 'Wait and See' Approach
Back
Back
6
Impact
7
Urgency
Sentiment Analysis
BearishNeutralBullish
PublishedDec 17
Sources6 verified

Pertumbuhan Kredit Perbankan RI Masih Lesu, Pelaku Usaha 'Wait and See'

Tim Editorial AnalisaHub·17 Desember 2025
Executive Summary
01

Executive Summary

Key insights and market outlook

Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa pertumbuhan kredit perbankan masih lesu pada November 2025 sebesar 7,74% year-on-year, naik dari 7,36% pada bulan sebelumnya. Gubernur BI Perry Warjiyo mengaitkan lemahnya permintaan kredit dengan sikap 'wait and see' pelaku usaha, optimalisasi pembiayaan internal korporasi, dan penurunan suku bunga kredit yang lambat 1

23. Fasilitas pinjaman yang belum dicairkan mencapai Rp 2.509,4 triliun, atau 23,18% dari total kredit yang tersedia 2.

Full Analysis
02

Deep Dive Analysis

Sektor Perbankan Indonesia Menghadapi Tantangan Pertumbuhan Kredit

Pertumbuhan Kredit Masih Lesu

Sektor perbankan Indonesia terus mengalami pertumbuhan kredit yang lesu pada November 2025, dengan ekspansi kredit mencapai **7,74% year-on dan tahun sebelumnya sebesar 7,36% 1

23. Meskipun terjadi sedikit peningkatan, Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa permintaan kredit tetap lemah karena pelaku usaha cenderung 'wait and see' dan korporasi mengoptimalkan pembiayaan internal 1.

Faktor Penyebab Lemahnya Permintaan Kredit

Beberapa faktor telah diidentifikasi sebagai penyebab lemahnya permintaan kredit:

  1. Sikap hati-hati pelaku usaha: Sikap 'wait and see' yang berlaku di kalangan pelaku usaha menyebabkan tertundanya keputusan investasi dan ekspansi 12.
  2. Penurunan suku bunga kredit yang lambat: Meskipun ada pelonggaran moneter, suku bunga kredit hanya turun 24 basis poin dari 9,20% awal 2025 menjadi 8,96% pada November 2025 3.
  3. Pembiayaan internal korporasi: Perusahaan semakin mengandalkan sumber pendanaan internal daripada mencari kredit eksternal 1.

Fasilitas Pinjaman yang Belum Dicairkan Masih Signifikan

Fasilitas pinjaman yang belum dicairkan ('kredit nganggur') mencapai Rp 2.509,4 triliun per November 2025, atau 23,18% dari total kredit yang tersedia 2

. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun jalur kredit disetujui, belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh pelaku usaha.

Respons dan Outlook BI

Gubernur BI Perry Warjiyo menekankan pentingnya mempercepat transmisi kebijakan moneter untuk mendorong pertumbuhan kredit. Bank sentral berupaya memastikan bahwa manfaat penurunan suku bunga dapat dirasakan oleh peminjam dengan lebih efektif. Meskipun menghadapi tantangan saat ini, BI optimis tentang prospek pertumbuhan kredit untuk tahun 2026 4

.

Kinerja Perbankan Syariah

Sebagai catatan positif bagi sektor perbankan secara keseluruhan, perbankan syariah terus menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Total aset mencapai Rp 1.028,18 triliun hingga Oktober 2025, atau pertumbuhan 11,34% year-on-year. Pembiayaan yang disalurkan oleh bank syariah mencapai Rp 685,55 triliun, tumbuh 7,78% YoY, sementara dana pihak ketiga mencapai Rp 820,79 triliun, meningkat 14,26% YoY 5

.

Tantangan bagi Bank Tertentu

Beberapa bank, seperti Bank of India Indonesia, menghadapi tantangan dengan pertumbuhan kredit dan kualitas aset. Total aset bank tumbuh 6,41% YoY menjadi Rp 6,94 triliun, sementara rasio kredit macet meningkat ke level 6,12% dari 6,02% pada Desember 2024 6

.

Sumber

  1. [Detik Finance](
  2. [Kontan](
  3. [Bisnis.com](
  4. [Bisnis.com](
  5. [Kontan](
  6. [Kontan](
Original Sources

Story Info

Published
1 month ago
Read Time
17 min
Sources
6 verified

Topics Covered

Pertumbuhan KreditSektor PerbankanKebijakan Moneter

Key Events

1

Pertumbuhan Kredit November 2025

2

Penurunan Suku Bunga Kredit

3

Kinerja Perbankan Syariah

Timeline from 6 verified sources