Key insights and market outlook
Penyaluran kredit perbankan di Indonesia diperkirakan akan tumbuh lebih agresif di 2026, didorong oleh pemulihan ekonomi dan kebijakan fiskal yang akomodatif. Analis memprediksi pertumbuhan kredit dapat mencapai 9% YoY di 2026, naik dari 8,15% YoY di 2025. Faktor-faktor kunci termasuk peningkatan likuiditas setelah pemerintah menginjeksi Rp276 triliun ke bank-bank BUMN dan potensi penurunan suku bunga BI yang dapat menurunkan suku bunga pinjaman.
Sektor perbankan Indonesia siap untuk penyaluran kredit yang lebih agresif di 2026, didukung oleh pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung dan kebijakan fiskal yang akomodatif. Menurut Myrdal Gunarto, Global Market Economist Maybank Indonesia, pertumbuhan kredit diperkirakan mencapai 9% YoY di 2026, naik dari estimasi 8,15% YoY di 2025.
Bank-bank besar sedang mempersiapkan diri untuk pertumbuhan kredit yang diharapkan. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) telah melaporkan penyaluran kredit mencapai Rp923 triliun hingga Oktober 2025, tumbuh 7,6% YoY. Bank ini menargetkan pertumbuhan kredit antara 6-8% untuk tahun penuh 2025. Hana Bank juga mengalami pertumbuhan kredit yang kuat, dengan pinjaman mencapai Rp40,07 triliun hingga akhir Q3 2025, meningkat 13,90% YoY.
Meskipun prospeknya positif, bank-bank masih menghadapi tantangan, termasuk pinjaman yang belum dicairkan sebesar Rp2.450,7 triliun hingga Oktober 2025. Bisnis masih berhati-hati, dengan banyak yang mengadopsi pendekatan 'wait and see'. Namun, peningkatan likuiditas dan potensi pemotongan suku bunga diharapkan dapat menciptakan peluang bagi bank untuk memperluas aktivitas pinjaman di 2026.
Credit Growth Acceleration in 2026
Government Liquidity Injection
Potential BI Rate Cut