Key insights and market outlook
Bank-bank besar di Indonesia, termasuk BCA dan Allo Bank, membela diri terhadap kritik 'bank malas' dalam menyalurkan kredit. BCA melaporkan total kredit Rp921 triliun pada November 2025 dengan rasio kecukupan modal 29,9%. Bank-bank mengaitkan kehati-hatian dalam pemberian kredit dengan ketidakpastian ekonomi dan manajemen risiko, bukan karena kurangnya likuiditas, karena LDR industri masih di bawah 90%. Para ahli menyarankan bahwa masalah struktural dan kepercayaan bisnis yang rendah menjadi penyebab utama fenomena ini.
Bank-bank besar di Indonesia telah menanggapi kritik tentang kehati-hatian mereka dalam menyalurkan kredit. BCA melaporkan bahwa portofolio pinjaman mereka mencapai Rp921 triliun pada November 2025, menunjukkan pertumbuhan yang sehat. Manajemen bank menekankan komitmen mereka untuk tetap berhati-hati sambil tetap mendukung pertumbuhan kredit.
Metrik keuangan BCA menunjukkan posisi yang kuat: bank ini mempertahankan rasio loan-to-deposit (LDR) sebesar 75,6% dalam sembilan bulan pertama tahun 2025, sedikit lebih tinggi dari 75,1% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Yang lebih penting, rasio kecukupan modal (CAR) bank mencapai 29,9%, menunjukkan posisi modal yang solid untuk mendukung pertumbuhan masa depan sambil mengelola potensi risiko.
Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum Allo Bank, Ganda Raharja Rusli, memberikan konteks tambahan tentang posisi likuiditas industri perbankan. Menurut Ganda, likuiditas saat ini di sektor perbankan relatif lebih longgar dibandingkan dengan akhir tahun sebelumnya, dengan sebagian besar bank mempertahankan LDR di bawah 90%. Likuiditas ini didukung oleh penempatan pemerintah sebesar sekitar Rp200 triliun di bank-bank milik negara.
Meskipun kondisi likuiditas yang mendukung, pertumbuhan kredit dibatasi oleh faktor penawaran dan permintaan. Ganda mencatat bahwa bank-bank berhati-hati karena ketidakpastian ekonomi, sementara pelaku usaha juga ragu-ragu untuk berekspansi di tengah ketidakpastian kebijakan. Rasio kredit bermasalah (NPL) tetap di bawah 3%, menunjukkan bahwa bank-bank mengelola risikonya secara efektif.
Analis ekonomi Bhima Yudhistira dari Celios menawarkan perspektif yang lebih kritis, menyatakan bahwa fenomena 'bank malas' adalah masalah struktural bukan hanya masalah likuiditas. Bhima berpendapat bahwa preferensi bank untuk berinvestasi pada surat berharga negara (SBN) daripada memberikan pinjaman kepada bisnis didorong oleh imbal hasil yang menarik dan peningkatan risiko bisnis.
Analis juga menyoroti bahwa rendahnya kepercayaan bisnis yang berasal dari ketidakpastian kebijakan fiskal berkontribusi pada pertumbuhan kredit yang lambat. Pelaku usaha tetap berhati-hati dalam memperluas operasinya karena kekhawatiran tentang efektivitas program belanja pemerintah dan arah kebijakan secara keseluruhan. Bhima menyatakan bahwa injeksi likuiditas ke sistem perbankan mungkin tidak mengatasi akar masalahnya.
Untuk tahun 2026, bank-bank diharapkan akan tetap selektif dalam penyaluran kredit, dengan fokus pada sektor ritel dan perdagangan yang terbukti resilien. Industri ini kemungkinan akan melihat ekspansi kredit yang hati-hati, seimbang dengan kebutuhan untuk menjaga kualitas aset. Seperti yang dicatat Bhima, mengatasi masalah struktural akan membutuhkan langkah-langkah kebijakan yang lebih komprehensif di luar sekadar penyediaan likuiditas.
Bank Credit Growth Update
Liquidity Injection Impact
Banking Industry Outlook