Key insights and market outlook
Bank-bank di Indonesia menyatakan bahwa pelemahan rupiah tidak akan berdampak signifikan terhadap kinerja mereka karena mereka terutama memberikan pinjaman dalam USD kepada perusahaan yang berorientasi ekspor. Bankir menekankan praktik manajemen risiko mereka, termasuk stress testing dan kepatuhan terhadap regulasi Bank Indonesia. Namun, mereka tetap waspada terhadap implikasi ekonomi yang lebih luas, terutama pada belanja konsumen dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Bank-bank di Indonesia meremehkan potensi dampak pelemahan rupiah terhadap kinerja mereka, dengan alasan bahwa mereka terutama memberikan pinjaman dalam USD kepada perusahaan yang berorientasi ekspor dengan pendapatan dalam USD. Ganda Raharja Rusli, Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum di Allo Bank Indonesia (BBHI), menekankan bahwa praktik ini meminimalkan efek pada pendapatan perusahaan dan pembayaran kembali pinjaman. Bank-bank juga telah menerapkan mekanisme untuk mengelola risiko nilai tukar, termasuk penyediaan untuk pembayaran bunga.
Bank-bank mematuhi regulasi Bank Indonesia tentang Posisi Devisa Neto dan melakukan stress test untuk menilai potensi dampak depresiasi rupiah yang berkelanjutan pada portofolio pinjaman mereka. Lani Darmawan, Direktur Utama Bank CIMB Niaga (BNGA), mencatat bahwa struktur keuangan mereka tetap didominasi oleh rupiah, sehingga mengurangi eksposur lebih lanjut. Kedua bank mempertahankan komunikasi aktif dengan peminjam USD untuk memantau dan mengelola potensi risiko.
Sementara bank-bank merasa eksposur langsung mereka dapat dikelola, mereka waspada terhadap implikasi ekonomi yang lebih luas. Ganda mencatat bahwa ekonomi Indonesia tetap sangat digerakkan oleh konsumsi, membuatnya rentan terhadap depresiasi rupiah melalui penurunan daya beli konsumen. Hal ini dapat menciptakan efek domino pada perekonomian secara keseluruhan.
Rupiah diperkirakan akan terus melemah, berpotensi menembus level Rp17.000 per USD. Ibrahim Assuaibi, Direktur Utama Forexindo Laba Berjangka, mengaitkan hal ini dengan faktor eksternal seperti tensi geopolitik dan faktor internal seperti IHSG yang mencapai level tertinggi sepanjang masa. Seiring rupiah melemah, korelasi dengan IHSG menunjukkan potensi depresiasi lebih lanjut.
Rupiah Depreciation
Banking Sector Risk Assessment
Currency Risk Management Practices