Key insights and market outlook
Bank-bank di Indonesia semakin banyak mengadopsi Artificial Intelligence (AI) untuk mengurangi biaya operasional secara signifikan dan meningkatkan efisiensi. Allo Bank dan BCA Syariah termasuk pionir yang memanfaatkan AI untuk otomatisasi proses dan peningkatan layanan nasabah. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa adopsi AI semakin meningkat, dengan manfaat termasuk pengurangan biaya, minimalisasi kesalahan, dan deteksi penipuan. Namun, OJK juga mengingatkan potensi risiko seperti penggantian pekerjaan dan ancaman keamanan siber.
Bank-bank di Indonesia berada di garis depan dalam memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) untuk mentransformasi operasional mereka. PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) dan PT Bank BCA Syariah termasuk lembaga terkemuka yang memanfaatkan AI untuk menyederhanakan proses dan meningkatkan pengalaman nasabah. Menurut Ganda Raharja Rusli, Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum Allo Bank, bank memandang adopsi AI sebagai suatu keniscayaan dalam kegiatan operasional perbankan.
Integrasi AI diharapkan memberikan manfaat signifikan, termasuk pengurangan biaya, peningkatan akurasi, dan peningkatan kepuasan nasabah. BCA Syariah telah mengimplementasikan AI dan otomatisasi robotik untuk mempercepat proses pembiayaan, sehingga meningkatkan kenyamanan nasabah. Direktur BCA Syariah, Pranata, menekankan bahwa pemanfaatan AI akan terus berkembang di berbagai proses bisnis untuk mendukung efisiensi, kecepatan, dan akurasi dalam layanan nasabah.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melakukan survei pada Oktober 2025 yang melibatkan 102 bank dengan aset mencapai 99,25% dari total aset perbankan. Survei tersebut mengungkapkan bahwa beberapa bank telah mengintegrasikan AI ke dalam proses bisnis mereka. OJK mencatat dampak positif AI, termasuk perannya sebagai alat efektif untuk pengumpulan, perangkuman, dan analisis informasi yang komprehensif dan cepat. AI sangat bermanfaat dalam mengurangi beban kerja pegawai pada aktivitas rutin yang membutuhkan informasi luas dan beragam.
Sementara AI menawarkan banyak keuntungan, OJK juga mengingatkan potensi risiko yang terkait dengan adopsi AI. Risiko ini termasuk penggantian pekerjaan akibat otomatisasi, ancaman keamanan siber, masalah privasi data, dan bias algoritma dalam pengambilan keputusan. Untuk mengurangi risiko ini, bank-bank disarankan untuk mempertahankan pengawasan manusia atas sistem AI. OJK menekankan bahwa meskipun AI dapat menggantikan prosedur tertentu, AI tidak dapat menggantikan nilai-nilai etika, kepercayaan, dan integritas yang fundamental bagi industri perbankan.
Ketika bank-bank di Indonesia terus merangkul AI, sektor ini siap untuk transformasi signifikan. Kunci keberhasilan integrasi AI terletak pada keseimbangan antara pemanfaatan teknologi untuk efisiensi dan pengelolaan risiko terkait. Dengan melakukan hal ini, bank-bank dapat mengoptimalkan manfaat AI sambil mempertahankan integritas dan kepercayaan yang krusial bagi operasional mereka.
AI Adoption in Banking
Operational Cost Reduction
Financial Technology Innovation