Key insights and market outlook
Bank-bank di Indonesia menerapkan strategi untuk mempertahankan pertumbuhan paylater di tengah perlambatan belanja konsumen, di mana outstanding kredit BNPL mencapai Rp24,86 triliun dengan pertumbuhan 25,9% YoY 1
Sektor perbankan Indonesia mengalami perlambatan belanja konsumen yang mempengaruhi pertumbuhan layanan buy now, pay later (BNPL) atau paylater. Meskipun demikian, outstanding kredit BNPL yang dikelola bank tetap mencapai Rp24,86 triliun pada November 2025, tumbuh sebesar 25,9% year-on-year (YoY) 1
Menurut Trioksa Siahaan, Wakil Presiden Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), perlambatan pertumbuhan BNPL erat kaitannya dengan tren konsumsi rumah tangga. "Tingkat daya beli, yang saat ini membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam berbelanja, berpengaruh. Jika membaik, BNPL juga akan membaik," jelas Trioksa 1
Dalam perkembangan terpisah, bank-bank di Indonesia secara aktif mencari likuiditas valas meskipun permintaan kredit valas lemah. Hingga Juli 2025, penyaluran kredit valas mencapai Rp1.222 triliun, menunjukkan pertumbuhan 4,35% YoY yang modest 2
Tantangan ganda berupa perlambatan pertumbuhan paylater dan lemahnya permintaan kredit valas ini menuntut bank untuk mengadopsi strategi yang tepat. Untuk produk BNPL, bank mungkin perlu fokus pada manajemen risiko dan retensi pelanggan seiring melambatnya pertumbuhan. Untuk operasi valas, bank harus menyeimbangkan manajemen likuiditas dengan potensi risiko mempertahankan dana berbiaya tinggi di lingkungan permintaan yang rendah.
BNPL Credit Growth Slowdown
Foreign Currency Lending Trends