Key insights and market outlook
Perbankan di Indonesia optimis bahwa biaya pencadangan akan menurun di tahun 2026 seiring dengan peningkatan kualitas aset. Bank-bank telah menyisihkan dana yang signifikan untuk pencadangan kerugian sepanjang tahun 2025, namun tingkat pertumbuhan pencadangan ini mulai melambat dalam beberapa bulan terakhir. Misalnya, Bank Tabungan Negara (BTN) mengalami kenaikan biaya impairment menjadi Rp 5,28 triliun pada November 2025, namun tingkat pertumbuhan bulanan menurun dari 11,24% di Oktober menjadi 6,11% di November.
Sektor perbankan Indonesia menunjukkan tanda-tanda peningkatan kualitas aset, yang diperkirakan akan menyebabkan penurunan biaya pencadangan di tahun 2026. Sepanjang tahun 2025, bank-bank telah mengalokasikan dana yang cukup besar untuk pencadangan kerugian, namun tren terbaru menunjukkan perlambatan pertumbuhan biaya ini.
Bank Tabungan Negara (BTN) merupakan contoh yang signifikan, dengan biaya impairment yang mencapai Rp 5,28 triliun pada November 2025. Meskipun ini merupakan peningkatan dari Rp 1,30 triliun pada periode yang sama tahun lalu, tingkat pertumbuhan bulanan telah menurun - dari 11,24% di Oktober menjadi 6,11% di November. Tren ini menunjukkan bahwa beban pencadangan mungkin mulai mereda.
Penurunan biaya pencadangan yang diantisipasi kemungkinan akan berdampak positif pada kinerja keuangan sektor perbankan di tahun 2026. Ketika bank terus mengelola kualitas aset dan mengurangi biaya pencadangan, mereka mungkin dapat meningkatkan profitabilitas dan alokasi modal. Perkembangan ini sangat signifikan bagi bank-bank milik negara dan yang memiliki eksposur signifikan terhadap sektor yang telah mengalami tekanan.
Reduction in Provisioning Costs
Improvement in Asset Quality