Key insights and market outlook
Bank-bank di Indonesia diproyeksikan akan menurunkan suku bunga kredit secara signifikan di tahun 2026 karena beberapa faktor, termasuk penurunan BI rate sebesar 125 basis poin sepanjang tahun lalu. Faktor tambahan termasuk insentif likuiditas dari Bank Indonesia dan kebijakan pemerintah yang menempatkan dana di bank-bank pelat merah. Langkah-langkah ini diharapkan dapat menciptakan ruang bagi bank untuk menurunkan suku bunga kredit, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi.
Bank-bank di Indonesia siap untuk menurunkan suku bunga kredit secara signifikan di tahun 2026, didorong oleh beberapa kondisi yang mendukung. Penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 125 basis poin sepanjang tahun lalu telah menciptakan ruang yang cukup bagi bank untuk menurunkan suku bunga kredit mereka. Selain itu, berbagai insentif likuiditas yang disediakan oleh BI melalui langkah-langkah likuiditas makroprudensial untuk segmen kredit tertentu telah semakin mendorong penurunan suku bunga.
Keputusan pemerintah untuk menempatkan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) di bank-bank pelat merah dan bank daerah telah menambah dukungan likuiditas. Selain itu, BI menawarkan insentif tambahan kepada bank yang menyelaraskan suku bunga kredit mereka dengan arah BI rate, dengan insentif mencapai 0,5% dari dana pihak ketiga (DPK) untuk mengurangi persyaratan cadangan minimum.
Penurunan suku bunga kredit yang diantisipasi diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dengan membuat kredit lebih mudah diakses dan terjangkau bagi konsumen dan bisnis. Langkah ini sejalan dengan siklus pelonggaran moneter yang lebih luas dan didukung oleh langkah-langkah kebijakan moneter dan fiskal.
Penurunan Suku Bunga Kredit 2026
Insentif Likuiditas BI
Kebijakan SAL Pemerintah