Key insights and market outlook
Ulama terkemuka Indonesia, Habib Jafar dan Ustaz Adi Hidayat (UAD), memiliki pendapat yang berbeda tentang hukum mengucapkan Selamat Natal bagi umat Kristiani. Habib Jafar berpendapat bahwa diperbolehkan mengucapkan Selamat Natal berdasarkan rujukan Al-Quran dan ajaran Islam tentang menghormati agama lain. Sebaliknya, UAD menyarankan untuk tidak melakukannya, mengingat potensi keterlibatan dalam praktik keagamaan yang berbeda. Perdebatan ini menyoroti diskusi berkelanjutan tentang toleransi antaragama di Indonesia yang memiliki keragaman agama.
Pertanyaan apakah umat Islam Indonesia harus mengucapkan Selamat Natal kepada umat Kristiani telah memicu perdebatan di kalangan ulama. Dua ulama terkemuka, Habib Jafar dan Ustaz Adi Hidayat (UAD), memiliki pandangan yang berbeda tentang masalah ini. Habib Jafar, yang dikenal karena sikap toleransinya, baru-baru ini menunjukkan hal ini dengan mengucapkan Selamat Natal kepada Pastor Brian Siawarta pada Natal 2023. Ia membagikan pertemuan mereka di media sosial, menyoroti tradisinya mengunjungi teman-teman dari agama lain selama perayaan agama mereka.
Habib Jafar percaya bahwa mengucapkan Selamat Natal kepada umat Kristiani adalah diperbolehkan. Ia mendasarkan pendapatnya pada ajaran Islam, merujuk pada kisah Maryam dalam Al-Quran (Surat Maryam) di mana umat Islam dianjurkan untuk mengakui kelahiran Yesus Kristus, yang dianggap sebagai nabi dalam Islam. Ia juga mengutip hadits di mana Nabi Muhammad berdiri sebagai tanda hormat ketika prosesi pemakaman Yahudi melewati, menunjukkan penekanan Islam pada menghormati agama lain. Habib Jafar menafsirkan ajaran-ajaran ini sebagai dukungan untuk mengucapkan Selamat Natal kepada umat Kristiani.
Sebaliknya, Ustaz Adi Hidayat menyarankan agar umat Islam tidak mengucapkan Selamat Natal. Meskipun ia mengakui pentingnya toleransi dan menghormati agama lain, UAD menekankan bahwa batas-batas tertentu tidak boleh dilanggar. Ia memperingatkan bahwa mengucapkan "Selamat Natal" dapat dilihat sebagai ikut serta atau mendukung keyakinan agama lain, terutama jika melibatkan unsur ibadah atau ritual yang berbeda dari praktik Islam. UAD menekankan bahwa toleransi Islam tidak boleh mengorbankan identitas keagamaan seseorang.
Perdebatan antara Habib Jafar dan Ustaz Adi Hidayat mencerminkan diskusi yang lebih luas dalam komunitas keagamaan Indonesia tentang menjaga harmoni sambil melestarikan integritas keagamaan. Perbedaan pendapat mereka menyoroti kompleksitas navigasi hubungan antar agama di negara di mana toleransi beragama adalah landasan kohesi sosial. Dialog berkelanjutan antara berbagai perspektif keagamaan terus membentuk bagaimana orang Indonesia mendekati interaksi antar agama selama perayaan keagamaan.