Key insights and market outlook
Industri alas kaki Indonesia menghadapi tantangan berat akibat tarif 19% yang dikenakan Amerika Serikat di bawah kebijakan perdagangan Trump. Ekspor ke AS turun 23,14% antara Agustus dan September 2025, mendorong Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO) mendesak pemerintah untuk menegosiasikan tarif resiprokal di bawah 19% atau idealnya 0% agar tetap kompetitif melawan negara-negara seperti Vietnam dan Bangladesh.
Industri alas kaki Indonesia menghadapi tantangan signifikan akibat tarif 19% yang dikenakan Amerika Serikat. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor alas kaki Indonesia ke AS menurun sebesar 23,14% antara Agustus dan September 2025. Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO) mengungkapkan keprihatinan serius tentang perkembangan ini, menyoroti potensi dampak negatif terhadap produktivitas dan ketenagakerjaan di sektor ini.
APRISINDO mendesak pemerintah Indonesia untuk menegosiasikan tarif resiprokal dengan AS yang di bawah 19% atau idealnya 0%. Asosiasi ini percaya bahwa langkah ini akan membantu produsen alas kaki Indonesia tetap kompetitif melawan pesaing di negara-negara seperti Vietnam, Kamboja, Pakistan, Bangladesh, dan China. Direktur Eksekutif APRISINDO, Yoseph Billie Dosiwoda, menekankan bahwa situasi tarif saat ini menyebabkan penurunan pesanan, yang dapat berujung pada pemutusan hubungan kerja dan penurunan produktivitas di industri.
Industri alas kaki merupakan kontributor signifikan bagi perekonomian Indonesia, terutama dalam hal ketenagakerjaan dan pendapatan ekspor. Tantangan yang dihadapi akibat kebijakan tarif AS menggarisbawahi pentingnya pemerintah Indonesia untuk terlibat dalam diplomasi perdagangan proaktif guna melindungi kepentingan para eksportir. Situasi ini menyoroti kerentanan industri padat karya terhadap perubahan kebijakan perdagangan global dan pentingnya struktur tarif yang kompetitif dalam menjaga pangsa pasar.
US Tariff Impact on Indonesian Footwear Exports
Export Decline Due to Tariff