Key insights and market outlook
Industri alas kaki Indonesia menghadapi tantangan besar akibat tarif AS sebesar 19% yang diberlakukan pada ekspor alas kaki Indonesia sejak 7 Agustus 2025, naik dari 10%. Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO) mendesak pemerintah untuk menegosiasikan tarif resiprokal 0% dengan AS. Kenaikan tarif ini telah menyebabkan penurunan ekspor sebesar 23,14% ke AS selama Agustus-September 2025, mengancam produktivitas dan lapangan kerja di industri padat karya ini.
Industri alas kaki Indonesia menghadapi tantangan besar akibat kenaikan tarif AS terhadap ekspor alas kaki Indonesia. Tarif telah meningkat menjadi 19% sejak 7 Agustus 2025, dari sebelumnya 10%. Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO) mengungkapkan keprihatinannya dan mendesak pemerintah untuk mengambil tindakan untuk mengurangi dampaknya.
Tarif yang lebih tinggi telah menyebabkan penurunan ekspor alas kaki Indonesia sebesar 23,14% ke AS selama Agustus-September 2025, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS). Penurunan ini disebabkan oleh melemahnya pesanan akibat kenaikan tarif, yang kemudian mempengaruhi produktivitas dan meningkatkan risiko PHK di industri ini. Sektor alas kaki yang padat karya dan mempekerjakan hampir satu juta pekerja sangat rentan terhadap perubahan ini.
APRISINDO mendukung upaya Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam menegosiasikan tarif resiprokal dengan AS. Namun, asosiasi ini menekankan bahwa tarif untuk alas kaki harus diturunkan menjadi 0% atau setidaknya jauh lebih rendah dari 19% saat ini. APRISINDO berpendapat bahwa draf negosiasi saat ini hanya memberikan tarif 0% untuk komoditas berbasis sumber daya alam tropis, sementara sektor manufaktur padat karya seperti alas kaki tetap dikenakan tarif tinggi.
Situasi ini mengingatkan pada tantangan sebelumnya yang dihadapi oleh industri tekstil. Eksportir telah khawatir tentang tarif yang lebih tinggi, hingga 32%, selama April-Juli 2025, yang menyebabkan strategi ekspansi dan ekspor yang hati-hati. Tarif 19% yang baru-baru ini diberlakukan, meskipun lebih rendah dari 32% yang dikhawatirkan, masih menimbulkan tantangan besar. Seruan APRISINDO untuk tarif 0% bertujuan mencegah dampak negatif lebih lanjut pada produktivitas dan lapangan kerja industri ini.
US Tariff Hike on Indonesian Footwear
Export Decline Due to Tariff