Key insights and market outlook
Pemerintah Indonesia diprediksi akan meningkatkan penerbitan obligasi pada awal 2026, dengan fokus pada obligasi pemerintah berdenominasi dolar AS. Hal ini mengikuti penurunan suku bunga Bank Indonesia sebesar 125 basis poin tahun ini, yang telah menurunkan yield obligasi pemerintah secara signifikan. Likuiditas domestik yang tinggi akibat injeksi fiskal oleh Kementerian Keuangan juga berkontribusi pada penurunan yield.
Pasar obligasi pemerintah Indonesia siap untuk peningkatan penerbitan pada awal 2026, dengan fokus khusus pada obligasi berdenominasi dolar AS. Menurut Lionel Priyadi, Strategis Pendapatan Tetap & Makro di Mega Capital Sekuritas, penerbitan mendatang akan didorong oleh obligasi berdenominasi dolar AS yang jatuh tempo sebesar US$ 3,82 miliar di Q1-2026.
Yield obligasi pemerintah Indonesia, yang juga dikenal sebagai Surat Berharga Negara (SBN), telah menurun secara signifikan sepanjang 2025. Penurunan ini disebabkan oleh dua faktor utama:
Lionel Priyadi mencatat bahwa likuiditas domestik yang tinggi akibat injeksi fiskal pemerintah, dikombinasikan dengan pemotongan suku bunga BI, telah menjadi penggerak utama penurunan yield tahun ini. Menjelang 2026, pasar diharapkan akan melihat kelanjutan tren ini, dengan pemerintah kemungkinan akan menerbitkan lebih banyak obligasi untuk mengelola kewajiban utangnya yang jatuh tempo.
Fokus pada obligasi berdenominasi dolar AS dalam penerbitan mendatang sebagian besar didorong oleh US$ 3,82 miliar obligasi yang jatuh tempo di kuartal pertama 2026. Keputusan strategis ini kemungkinan ditujukan untuk mengelola kewajiban utang valuta asing sambil memanfaatkan kondisi pasar yang menguntungkan.
Increased Government Bond Issuance in 2026
Bank Indonesia Rate Cuts
Fiscal Injections by Ministry of Finance