Key insights and market outlook
Industri perhotelan Indonesia optimis menghadapi musim Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), meski masih menghadapi tantangan okupansi. Tingkat okupansi pada kuartal III-2025 masih turun 4% tahun-ke-tahun akibat lemahnya daya beli masyarakat dan efisiensi belanja pemerintah. Pelaku industri memperkirakan adanya peningkatan okupansi selama Nataru, yang secara historis merupakan periode puncak.
Industri perhotelan Indonesia memasuki musim Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) dengan optimisme yang hati-hati. Meski bergelut dengan permintaan konsumen yang lemah dan pemotongan pengeluaran pemerintah sepanjang tahun, para pemangku kepentingan industri mengantisipasi adanya peningkatan tingkat hunian selama periode liburan. Maulana Yusran, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), mencatat bahwa secara historis, Nataru selalu menunjukkan peningkatan okupansi hotel.
Industri perhotelan menghadapi tantangan signifikan di tahun 2025, dengan tingkat hunian pada kuartal III-2025 masih 4% lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Faktor utama yang berkontribusi pada penurunan ini adalah daya beli konsumen yang lemah dan langkah efisiensi belanja pemerintah. Maulana menekankan bahwa daya beli konsumen menjadi faktor utama yang mempengaruhi tingkat hunian hotel.
Meski tren okupansi saat ini masih menantang, pelaku industri berharap bahwa periode Nataru akan memberikan lonjakan yang dibutuhkan. Sektor ini biasanya mengalami lonjakan permintaan selama periode ini karena merupakan salah satu musim perjalanan puncak di Indonesia. Namun, dampak sebenarnya akan tergantung pada berbagai faktor termasuk kondisi ekonomi secara keseluruhan dan tingkat kepercayaan konsumen.
Nataru Season Outlook
Hotel Occupancy Trends