Key insights and market outlook
Indeks sektor konsumer non siklikal hanya naik 8,74% secara year-to-date menjadi 793,27, menjadikannya sektor dengan kinerja terlemah di antara semua indeks sektoral di BEI. Analis menilai underperformance ini disebabkan oleh pelemahan daya beli konsumen, erosi margin akibat kenaikan biaya bahan baku dan logistik, serta rotasi investor ke sektor yang lebih agresif seperti komoditas dan saham lapis kedua.
Indeks sektor konsumer non siklikal telah mencatat kinerja terlemah di antara semua indeks sektoral di Bursa Efek Indonesia, dengan hanya kenaikan 8,74% secara year-to-date menjadi 793,27 per 17 Desember 2025. Performa buruk ini sangat menonjol jika dibandingkan dengan indeks sektoral lainnya yang telah mencapai pertumbuhan dua atau bahkan tiga digit selama periode yang sama.
Analis ekuitas Hari Rachmansyah dari PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) mengidentifikasi beberapa faktor kunci yang berkontribusi pada kinerja buruk sektor ini. Pertama, terjadi pelemahan signifikan dalam daya beli konsumen, yang secara langsung berdampak pada penjualan dan pendapatan perusahaan di sektor ini. Kedua, perusahaan menghadapi erosi margin akibat kenaikan biaya bahan baku dan logistik, yang semakin menekan kinerja keuangan mereka. Terakhir, terjadi rotasi dana investor yang signifikan dari saham konsumer non siklikal ke sektor yang lebih agresif seperti komoditas, energi, dan saham lapis kedua.
Kinerja buruk sektor konsumer non siklikal memiliki implikasi yang lebih luas bagi pasar. Ini mencerminkan perubahan preferensi investor dan nafsu risiko, dengan investor tampaknya lebih memilih sektor yang dianggap memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi dalam lingkungan ekonomi saat ini. Bagi perusahaan di sektor konsumer non siklikal, tren ini menunjukkan perlunya penyesuaian strategi untuk mempertahankan minat investor dan mendukung kinerja saham mereka.
Non-Cyclical Consumer Sector Underperformance
Investor Rotation to Aggressive Sectors