Key insights and market outlook
Industri kemasan Indonesia diperkirakan mengalami pertumbuhan yang lesu meskipun biasanya mendapat lonjakan saat Ramadan dan Lebaran. Menurut Henky Wibawa, Direktur Eksekutif Indonesian Packaging Federation (IPF), perubahan gaya hidup konsumen dan praktik ritel berdampak negatif pada permintaan. Industri ini telah mengalami pergeseran ke arah pengurangan tingkat inventori di ritel dan perilaku konsumen yang lebih spontan selama lima tahun terakhir.
Industri kemasan Indonesia, yang biasanya didorong oleh peningkatan permintaan selama Ramadan dan Lebaran, bersiap menghadapi pertumbuhan yang lesu tahun ini. Henky Wibawa, Direktur Eksekutif Indonesian Packaging Federation (IPF), mencatat bahwa industri ini menghadapi tantangan karena perubahan gaya hidup konsumen dan praktik ritel. Perilaku konsumen yang semakin spontan dan pengecer yang menjaga tingkat inventori rendah telah berkontribusi pada perlambatan ini.
Selama lima tahun terakhir, sektor ritel telah beralih dari stok barang dalam jumlah besar, sebuah tren yang berdampak langsung pada industri kemasan. Konsumen juga menunjukkan perilaku pembelian yang lebih spontan, yang selanjutnya mempengaruhi permintaan bahan kemasan. Perubahan dalam lanskap ritel ini membuat produsen kemasan sulit memprediksi dan mempersiapkan fluktuasi permintaan.
Efek gabungan dari faktor-faktor ini menunjukkan bahwa industri kemasan tidak akan mengalami pertumbuhan signifikan selama Ramadan dan Lebaran tahun ini. Para pemangku kepentingan industri perlu beradaptasi dengan dinamika yang berubah ini untuk menghadapi lingkungan yang menantang secara efektif.
Sluggish Packaging Industry Growth
Changing Consumer Behavior Impact