Key insights and market outlook
Rupiah Indonesia menjadi mata uang kedua terburuk di Asia sepanjang tahun berjalan, melemah sebesar 3,44% terhadap Dolar AS. Penurunan ini disertai dengan arus modal keluar yang signifikan sebesar Rp184,09 triliun dari pasar keuangan Indonesia antara 1 Januari dan 13 November 2025. Bank Indonesia (BI) mempertahankan cadangan devisa sebesar $149,9 miliar per Oktober 2025, memberikan stabilitas di tengah ketidakpastian keuangan global.
Rupiah Indonesia telah mengalami penurunan yang substansial, menjadi mata uang kedua terburuk di Asia sepanjang tahun berjalan (YtD), dengan depresiasi sebesar 3,44% terhadap Dolar AS per 14 November 2025. Kinerja ini sangat menonjol jika dibandingkan dengan mata uang Asia lainnya, dimana hanya Rupee India yang lebih buruk dengan pelemahan -3,52%. Sebaliknya, Ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di kawasan dengan penguatan 8,22% terhadap Dolar AS.
Depresiasi Rupiah ini disertai dengan arus modal keluar yang signifikan dari pasar keuangan Indonesia. Menurut Bank Indonesia, total arus modal keluar antara 1 Januari dan 13 November 2025 mencapai Rp184,09 triliun. Arus keluar ini terutama disebabkan oleh penjualan neto sebesar Rp37,24 triliun di pasar saham, Rp140,40 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dan Rp6,45 triliun di Surat Berharga Negara (SBN).
Arus modal keluar ini berdampak pada pasar keuangan Indonesia. Premi credit default swap (CDS) 5 tahun untuk Indonesia berada di level 73,51 basis poin per 13 November 2025, menunjukkan perbaikan dari 76,05 basis poin pada 7 November 2025. Sementara itu, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tetap stabil di 6,12% pada 14 November 2025, konsisten dengan level hari sebelumnya.
Dalam merespons perkembangan ini, Bank Indonesia mempertahankan posisi cadangan devisa yang kuat. Per Oktober 2025, cadangan devisa negara mencapai $149,9 miliar, naik dari $148,7 miliar di bulan sebelumnya. Peningkatan ini disebabkan oleh penerbitan obligasi global oleh pemerintah, penerimaan pajak, dan pendapatan jasa. Menurut Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, cadangan devisa tersebut setara dengan 6,2 bulan impor, melebihi standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Pada 14 November 2025, Rupiah dibuka lebih kuat di Rp16.690 per Dolar AS, dibandingkan dengan Rp16.720 per Dolar AS pada penutupan hari perdagangan sebelumnya. Pergerakan ini mencerminkan dinamika yang terus berlangsung di pasar valuta asing seiring investor bereaksi terhadap perkembangan ekonomi domestik dan internasional.
Significant Capital Outflow
Currency Depreciation
Foreign Reserve Update