Key insights and market outlook
Rupiah melemah 0,55% sepanjang pekan lalu, ditutup di Rp16.819 per USD pada 9 Januari 2026. Pelemahan ini disebabkan oleh menguatnya dolar AS di tengah data tenaga kerja AS yang positif dan sentimen kehati-hatian investor menjelang rilis laporan ketenagakerjaan utama.
Rupiah Indonesia mengalami pelemahan 0,55% terhadap dolar AS sepanjang pekan lalu, ditutup di Rp16.819 per USD pada 9 Januari 2026. Pergerakan ini sejalan dengan mata uang Asia lainnya yang juga melemah terhadap USD selama periode yang sama. Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) juga terdepresiasi 0,20% ke Rp16.834 per USD dari Rp16.801 per USD pada hari perdagangan sebelumnya 1
Josua Pardede, Kepala Ekonom Permata Bank, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah terutama disebabkan oleh menguatnya dolar AS. Mata uang AS menguat setelah data tenaga kerja AS yang positif, yang meningkatkan ekspektasi stabilitas ekonomi AS yang berlanjut. Selain itu, kehati-hatian investor menjelang rilis laporan ketenagakerjaan AS utama berkontribusi pada sentimen penghindaran risiko di pasar emerging, termasuk Indonesia.
Pelemahan rupiah dapat memiliki implikasi bagi ekonomi Indonesia yang bergantung pada impor, terutama dalam hal peningkatan biaya impor. Namun, rupiah yang kompetitif dapat menguntungkan eksportir. Pergerakan mata uang ini kemungkinan akan terus dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi global, terutama kebijakan moneter AS dan data pasar tenaga kerja.
Rupiah Depreciation
US Labor Data Release
Global Risk Aversion