Key insights and market outlook
Potensi kembalinya quantitative easing (QE) The Fed AS di 2026 diperkirakan akan menggerakkan pasar saham global, termasuk Indonesia. Pengamat Pasar Modal Reydi Octa menyatakan bahwa jika kebijakan ini diterapkan, investor akan cenderung memilih aset berisiko seperti saham karena bank dan institusi mencari imbal hasil yang lebih tinggi dari likuiditas yang disuntikkan. Hal ini berpotensi mendorong pertumbuhan signifikan di pasar saham Indonesia.
Pasar saham Indonesia diperkirakan akan mengalami pertumbuhan signifikan di 2026, didorong oleh potensi kembalinya kebijakan quantitative easing (QE) The Fed AS. Menurut pengamat pasar modal Reydi Octa, implementasi QE akan menciptakan lingkungan yang menguntungkan bagi aset berisiko seperti saham.
Reydi menjelaskan bahwa QE akan mengubah perilaku investor karena bank dan lembaga keuangan mencari imbal hasil yang lebih tinggi dari likuiditas yang disuntikkan oleh bank sentral melalui pembelian obligasi. "Dana tersebut harus ditempatkan di instrumen yang memberikan imbal hasil, yang biasanya mengalir ke saham," kata Reydi. Perubahan ini diperkirakan akan memberikan momentum baru bagi pasar saham.
Meskipun kebijakan QE merupakan perkembangan yang berpusat di AS, efeknya diperkirakan akan dirasakan di pasar global, termasuk Indonesia. Lonjakan likuiditas global dapat meningkatkan investasi asing di pasar saham Indonesia, berpotensi mendorong harga saham dan kapitalisasi pasar.
Investor disarankan untuk bersiap menghadapi perkembangan ini. Dengan kondisi pasar yang tepat dan kebijakan ekonomi yang mendukung, pasar saham Indonesia dapat mengalami pertumbuhan substansial di 2026. Kunci keberhasilannya adalah seberapa efektif pasar dapat memanfaatkan likuiditas dan sentimen investor yang masuk.
Potential US QE Policy in 2026
Global Liquidity Surge
Increased Foreign Investment