Key insights and market outlook
Pasar saham Indonesia dinilai masih undervalued dibandingkan pasar AS, sehingga memiliki potensi pertumbuhan yang signifikan, menurut Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia. Pasar saat ini berada di level valuasi terendah sejak krisis global awal 2000-an. Meskipun proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 di bawah 5%, prospek jangka panjang tetap solid, didukung oleh kebijakan pemerintah dan injeksi likuiditas.
Pasar saham Indonesia saat ini dinilai undervalued dibandingkan dengan pasar AS, menurut Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia. Kesenjangan valuasi ini menciptakan peluang investasi signifikan karena pasar saat ini berada di level terendah sejak krisis keuangan global awal 2000-an. Kondisi undervalued ini menunjukkan potensi besar untuk pertumbuhan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Meskipun proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2026 diperkirakan di bawah 5%, prospek jangka panjang tetap positif. Visi Presiden Prabowo Subianto untuk menjadikan Indonesia sebagai ekonomi terbesar keempat pada 2075 memberikan fondasi kuat bagi kepercayaan investor. Inisiatif pemerintah baru-baru ini, khususnya sejak Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjabat pada September 2025, telah mengucurkan Rp276 triliun ke bank-bank pemerintah untuk mendorong penyaluran kredit. Selain itu, Bank Indonesia telah melakukan pelonggaran likuiditas senilai Rp400 triliun, lebih mendukung likuiditas pasar.
Kombinasi antara kondisi undervalued saat ini dan kebijakan pemerintah yang mendukung menciptakan lingkungan yang menguntungkan bagi pasar saham Indonesia. IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) diprediksi berpotensi mencapai 10.000 poin di 2026. Outlook optimis ini didukung oleh valuasi yang rendah dan langkah-langkah proaktif pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Government Liquidity Injection
Bank Indonesia Monetary Easing
Economic Growth Projections