Key insights and market outlook
Industri tempe dan tahu Indonesia, yang diwakili oleh GAKOPTINDO, meminta segmentasi pasar kedelai lokal dan impor untuk menjaga keberlanjutan dan mengelola risiko inflasi. Pertumbuhan industri ini tetap positif karena konsumsi yang meningkat, namun ketahanannya bergantung pada manajemen rantai pasok, efisiensi produksi, dan kebijakan jelas terkait kedelai lokal vs impor.
Industri tempe dan tahu Indonesia terus menunjukkan tren pertumbuhan positif didorong oleh konsumsi domestik yang meningkat. Namun, para pemangku kepentingan industri ini menyuarakan kekhawatiran tentang ketergantungan berat pada kedelai impor dan perlunya manajemen rantai pasok yang lebih baik. Wibowo Nurcahyo, Sekretaris Jenderal GAKOPTINDO, menekankan bahwa segmentasi pasar antara kedelai lokal dan impor sangat krusial bagi keberlanjutan industri dan pengelolaan risiko inflasi.
Industri ini menghadapi tantangan signifikan terkait pengadaan bahan baku, khususnya ketersediaan dan harga kedelai. Sementara produksi kedelai lokal memiliki potensi, saat ini belum dapat memenuhi kebutuhan industri, sehingga menyebabkan ketergantungan berat pada impor. GAKOPTINDO mendorong pendekatan seimbang yang mendukung petani lokal dan kebutuhan industri melalui kebijakan jelas tentang penggunaan kedelai.
Untuk mengatasi tantangan ini, GAKOPTINDO mendorong: 1) Segmentasi jelas antara kedelai lokal dan impor di pasar, 2) Dukungan untuk petani kedelai lokal guna meningkatkan kualitas dan kuantitas, dan 3) Manajemen rantai pasok yang efisien untuk mengurangi biaya produksi. Langkah-langkah ini dipandang penting untuk menjaga laju pertumbuhan industri sambil mengurangi potensi risiko inflasi yang terkait fluktuasi harga komoditas impor.
GAKOPTINDO Policy Recommendation
Soybean Market Segmentation Proposal