Key insights and market outlook
Industri tekstil Indonesia menghadapi tantangan signifikan dalam mengakses kredit, dengan perusahaan melaporkan penolakan oleh beberapa bank karena sektor ini dinilai berisiko tinggi. PT Mayer Indah Indonesia mendekati lebih dari 20 bank untuk pinjaman modal kerja namun ditolak, menyoroti perjuangan industri di tengah meningkatnya persaingan dari impor dan produk tekstil ilegal. Keterbatasan kredit ini mengancam melemahkan industri yang sudah berada di bawah tekanan.
Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di Indonesia menghadapi tantangan signifikan dalam mengakses kredit, dengan perusahaan melaporkan penolakan luas oleh lembaga perbankan. PT Mayer Indah Indonesia, sebuah perusahaan di sektor TPT, baru-baru ini mendekati lebih dari 20 bank untuk mendapatkan pinjaman modal kerja namun ditolak secara universal. Menurut Melisa Suria, Manajer Umum PT Mayer Indah Indonesia, alasan utama yang disebutkan bank adalah profil risiko tinggi industri ini.
Keterbatasan kredit ini terjadi ketika industri tekstil sudah menghadapi persaingan ketat dari produk tekstil impor dan barang ilegal. Kurangnya akses ke pembiayaan kemungkinan akan memperburuk tantangan yang dihadapi produsen tekstil, berpotensi menyebabkan konsolidasi industri lebih lanjut atau pengurangan kapasitas. Situasi ini menyoroti kebutuhan akan dukungan keuangan yang tepat sasaran atau intervensi regulasi untuk mendukung keberlanjutan industri.
Isu ini baru-baru ini diangkat dalam pertemuan dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, menunjukkan keprihatinan pemerintah yang meningkat tentang kesehatan keuangan industri. Baik pemerintah maupun asosiasi industri, seperti APSyFI dan AGTI, diharapkan memainkan peran penting dalam mengatasi tantangan ini melalui potensi langkah-langkah kebijakan atau inisiatif industri.
Penolakan Kredit Industri Tekstil
Pertemuan dengan Menteri Keuangan